
KONSISTEN BERHIJAB: Qomarul Lailiah saat memimpin pertandingan Piala Sudirman 2017 di Carrara Sport and Leisure Center, Gold Coast, Queensland, Australia.
Didaulat untuk memimpin beberapa pertandingan Piala Sudirman 2017 di Carrara Sport and Leisure Center, Gold Coast, Queensland, Australia, Qomarul Lailiah konsisten pada identitasnya sebagai muslimah. Dia tetap menggunakan hijab saat menjalani profesinya itu. Berbagai kisah unik, termasuk menjalankan puasa di Australia, dibaginya kepada Jawa Pos.
FARID S. MAULANA, Gold Coast
RATUSAN penonton terhenyak saat melihat wasit yang memimpin pertandingan babak fase grup antara Jepang dan Malaysia. Termasuk para atlet Jepang, baik yang berada di bench maupun yang akan bertanding.
Mereka melihat wasit perempuan bernama Qomarul Lailiah berdiri di atas tribun tengah lapangan dan bersiap memimpin pertandingan. Wasit itu berhijab. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat pada ajang bulu tangkis sebesar Piala Sudirman.
Lia –panggilan Qomarul Lailiah– yang sadar jadi pusat perhatian seakan tak mau peduli. Dia tetap berfokus pada tugasnya sebagai pengadil lapangan. Dia juga tidak ingin ada pandangan remeh tentang perempuan muslim berjilbab yang memimpin pertandingan.
Hasilnya, game yang menentukan Jepang dan Malaysia untuk lolos ke babak selanjutnya itu berjalan dengan sangat baik. Kepemimpinan Lia diacungi jempol oleh berbagai kalangan. Dia bahkan tegas ketika pemain Jepang atau Malaysia berusaha mengulur waktu dengan mengganti shuttlecock atau meminta waktu untuk mengusap keringat. ’’Saya tetap menjalankan SOP pertandingan. Saya tidak mau jadi kendur hanya karena dipandang sebelah mata pakai hijab. Pertandingan harus berjalan sesuai aturan,’’ tegasnya.
Lia memang menjadi satu di antara puluhan pengadil lapangan dari berbagai negara yang ikut meramaikan ajang dua tahunan itu. Dia merupakan satu-satunya wakil Indonesia di ajang tersebut. Arek Surabaya itu diberi mandat besar untuk memimpin event yang jadi lambang supremasi kejuaraan bulu tangkis beregu internasional tersebut.
Perempuan yang sehari-hari berprofesi guru di SDN Sawunggaling 1 itu menyatakan, tidak pernah tebersit sedikit pun untuk melepas hijab. Meskipun dia diberi tugas besar memimpin pertandingan di Piala Sudirman 2017. Menurut dia, hijab merupakan salah satu identitas dan kewajibannya sebagai seorang muslim. Itu harus dijalankan secara konsekuen dalam keadaan apa pun. ’’Padahal, di ajang itu saya ujian untuk sertifikasi BWF (Badminton World Federation, Red),’’ katanya, lantas tersenyum.
Bukti kinerjanya yang baik membuahkan hasil. Selama menjadi wasit dalam enam pertandingan, Lia akhirnya lolos dan resmi mendapatkan sertifikat BWF. Dia kini menyandang predikat perempuan satu-satunya di Indonesia yang mempunyai sertifikat wasit BWF. Prestasi yang cukup mentereng bagi wasit di cabang olahraga dengan peminat berjibun di Indonesia itu.
Ibu dua anak tersebut mengaku beruntung bisa bergabung dengan organisasi BWF. Menurut dia, semua wasit dan perangkat pertandingan serta anggota di dalamnya sangat open minded. Malah dia didukung untuk terus menggunakan hijab saat jadi pengadil untuk pertandingan internasional. ’’Malah saya diberi fasilitas halal. Ada makanan halal dan tanpa alkohol khusus disediakan bagi orang muslim seperti saya,’’ terangnya.
Nah, kebetulan Piala Sudirman yang diadakan pada 21–28 Mei itu bertepatan dengan Ramadan. Bulan yang sangat dinantikan oleh umat muslim. Lia pun turut merasakan toleransi yang begitu indah dari BWF ataupun masyarakat Australia di Gold Coast.
Salah satunya adalah perhatian yang diberikan saat Lia menjalankan puasa. Beberapa rekan seprofesinya yang ikut memimpin laga Piala Sudirman 2017 berkali-kali menanyakan keadaan Lia yang sedang berpuasa saat bekerja. ’’How are you? Are you alright? I bet you hungry right now. Selalu nanya begitu. Padahal, saya sudah biasa puasa,’’ bebernya, lantas tertawa.
Kebetulan, di Gold Coast puasa baru dimulai pada Minggu (28/5). Berjarak sehari dengan Indonesia yang berpuasa sejak Sabtu (27/5). Jadi, perempuan yang sudah jadi wasit bulu tangkis sejak 2000 itu memutuskan ikut berpuasa sesuai dengan lokasi tinggalnya. Yakni, di Gold Coast.
Sebagai minoritas, berpuasa di Gold Coast memang banyak cobaan. Selain harus sabar melihat banyaknya orang yang makan dan minum di pinggir jalan, Lia harus telaten menghafalkan jam-jam untuk beribadah. Terutama berbuka puasa. ’’Tidak dengar azan di sini. Jadi, harus paham jam berapa berbuka,’’ jelasnya.
Untungnya, bersama Jawa Pos, pada Sabtu (27/5), Lia pergi ke Gold Coast Mosque. Masjid satu-satunya di kota tepi pantai Negara Bagian Queensland tersebut. Di situlah, dia mendapatkan segala informasi tentang Ramadan di benua selatan tersebut. ’’Luar biasa berpuasa di sini. Kerukunan umat Islam terlihat nyata. Saya seperti bertemu keluarga baru dari berbagai negara,’’ ungkapnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
