Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 April 2017 | 07.43 WIB

Kisah Fatmawati-Hasan Merawat Putri Penyandang Slow Learner dan Disabilitas

BAHAGIA: Dari kiri, Fatma, Difa, Vina, dan Hasan di depan rumah mereka. - Image

BAHAGIA: Dari kiri, Fatma, Difa, Vina, dan Hasan di depan rumah mereka.


Memiliki buah hati sempurna merupakan idaman semua orang. Bagi Fatmawati, punya anak yang tidak sempurna justru menjadi anugerah. Putrinya, Ramadania Difa Arzia, menyandang slow learner dan disabilitas. Mereka pun tegar.





ARIF ADI WIJAYA





TERDENGAR suara tangis bayi begitu melengking. Sungguh. Tak pernah kusangka anakku lahir ketika aku baru mengandung 5 bulan. Padahal, aku selalu rutin periksa ke dokter kandungan.



Ya Allah, begitu mungil-kecil anakku. Hanya dengan berat 1,5 kilogram dan panjang 50 sentimeter. Tak tega aku melihatnya. Ya Allah, kalau sampai anakku berumur panjang, berilah dia kesehatan. Tapi, bila tidak, aku ikhlas ya Allah.



Air mataku menetes sembari memandangi mata, telinga, dan jari-jarinya yang mungil itu. Ya Allah… Ramadania Difa Arzia, anakku.



Seperti itulah penggalan catatan Fatmawati ketika Difa, buah hatinya, terlahir pada 16 November 2003. Difa mengalami gangguan perkembangan sejak lahir. Bocah yang kini berusia 13 tahun itu lahir ketika ibunya baru mengandung 5 bulan.



Fatma, sapaan Fatmawati, menyatakan kaget dengan kondisi Difa. Tangan kanannya tidak bisa ditekuk. Ukurannya pun lebih pendek daripada tangan kiri. Baru bernapas selama 5 bulan, Difa sudah ditinggal pergi ayahnya, M. Suhadi. ’’Ayah Difa ABK kapal. Beliau meninggal akibat kapal tenggelam di Laut Banda,’’ tutur Fatma.



Tragedi itu terjadi pada April 2004. Fatmawati dikabari perusahaan swasta di Gresik tempat Suhadi kerja. Kabar duka membuat perempuan asal Rungkut, Surabaya, tersebut amat terguncang. Bagaimana tidak, Fatma yang kala itu masih berusia 24 tahun harus menghidupi anaknya sendirian. ’’Waktu itu masih mengajar dan ada murid yang kursus privat juga. Pulang kerja sampai jam 9 malam,’’ katanya.



Sejak saat itulah Fatma semakin rajin menulis. Hampir setiap hari pena dan kertas menjadi teman curhatnya. Melihat kondisi yang pelik seperti itu, dia tetap tegar. Karena sibuk mencari nafkah, perempuan 35 tahun tersebut pun terpaksa menitipkan Difa ke kakaknya.



Fatma seolah tidak bisa lepas dari pena dan kertas. Setiap ada kesempatan, dia selalu mencurahkan isi hatinya ke dalam tulisan. Hingga kini, sudah ada ratusan lembar tulisan tangan yang dia simpan.



Semua lembar tulisannya berisi momen berharga perkembangan Difa. Mulai lahir, pertama mengucap kata, hingga awal Difa bisaberjalan. Karena lahir prematur, tumbuh kembang Difa ikut terhambat.



Dalam catatannya, Fatma berkisah. Saat itu pagi, tepat pukul 09.00, Fatma sedang membuang sampah. Difa yang masih berusia 3,5 tahun tiba-tiba berlari sambil berteriak ’’mama’’.



Pemandangan itu membuat Fatma kaget sekaligus bahagia. Selama ini Fatma sudah berusaha memeriksakan Difa ke berbagai tempat. Mulai ke dokter spesialis hingga pengobatan alternatif.



Anakku, Difa. Saat usiamu 3,5 tahun, kau belum bisa berjalan. Mama bawa ke dokter hingga ahli urat. Semua usaha sudah mama lakukan. Tapi, belum berhasil. Kamu masih belum bisa berjalan.



Suatu pagi, tepat pukul 09.00 WIB, mama membuang sampah. Tiba-tiba kau berteriak ’’mama’’ sambil berlari. Mama sangat kaget sekaligus bahagia melihat kamu bisa berjalan. Bahkan berlari saat itu.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore