Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 16 Januari 2017 | 01.20 WIB

Rumah Belajar Ilalang, Sekolah bagi Anak-Anak Kurang Mampu

SEMANGAT: Para murid rumah belajar ilalang saat berlatih softball.l. - Image

SEMANGAT: Para murid rumah belajar ilalang saat berlatih softball.l.


Rumah Belajar Ilalang merupakan sekolah sederhana dengan banyak kegiatan untuk membentuk karakter para siswa. Ilalang, bahkan, punya kelebihan yang tidak dimiliki sekolah pada umumnya.





MEILIKA ASANTI WAHYUDI, Jakarta





MATAHARI saat sore di sudut Bekasi menjadi semacam penanda bagi anak-anak Rumah Belajar Ilalang untuk berlatih softball. Bergegas, mereka memenuhi lapangan tanpa nama di Kota Harapan Indah Bekasi yang biasa mereka sebut ”lapangan softball” begitu saja.



Pemanasan dimulai pukul 16.00 dengan dipimpin salah seorang murid yang memang lebih dulu berlatih softball di Jakarta. Namanya, Riyan. Dalam sesi latihan itu, Riyan berperan sebagai pelatih. ’Coach’, begitulah mereka memanggil Riyan setiap sore bakda asar. Meski siswa SMA kelas III, jangan salah, tekadnya menciptakan atlet dari murid-murid Ilalang sungguh luar biasa.



Tanpa sepatu, 23 anak memulai latihan. Meski diwarnai tawa, suasana latihan kerap kembali serius. ’’Outfield… outfield,’’ teriak sang pelatih. ’’Outfield.. Iya, lari. Go home. Balik-balik, langsung balik. Maju, Amel! Ah, ketinggian,’’ saut perempuan berkerudung hitam dengan glove cokelat di tangan kirinya. ’’Ayo.. ulang,’’ katanya, lalu memukul bola dengan bat.



Siswa-siswi di sini memang giat mengikuti berbagai macam ekstrakurikuler. Salah satunya, softball. Mereka semangat berlatih softball. Sebab, Februari, untuk kali pertama, mereka bertanding mewakili Sekolah Ilalang di Jakarta. Latihannya menjadi setiap hari bakda asar hingga menjelang magrib. Bahkan, jika ditanya soal cita-cita, kini jawaban mereka tidak hanya satu. Namun, ada dua. Ada yang mau jadi tentara, guru, atau programmer, tapi sekaligus jadi atlet softball.



Rumah Belajar Ilalang. Begitulah sang pengelola sekaligus guru Irna Nurkomarsih menyebutnya. Layaknya sekolah, ada guru, murid, dan mata pelajaran pokok. Namun, proses belajar-mengajar tidak berlangsung di sebuah bangunan besar dengan banyak ruang kelas, melainkan di tengah lapangan tempat kegiatan anak-anak. Tidak ada pula tiang bendera yang menjulang tinggi.



Ilalang memang berbeda. Rumah mungil disulap jadi sekolah untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung agar bisa mengenyam pendidikan. Di sana bukan soal seberapa besar kelasmu, seberapa lengkap seragammu, dan serapi apa sampul bukumu. Tak perlu datang pakai sepatu. Yang penting belajar.



Irna menyatakan, sejak 2009, dia membuat sekolah kecil pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk anak-anak yang kurang beruntung. Jadi, mereka tetap bisa mengenyam pendidikan tanpa harus mengeluarkan biaya. Barulah pada 2010, dibangun SMP Ilalang, menyusul tingkat SMA pada 2015.



’’Kami memang bermukim di perumahan, tapi di sekeliling kami banyak kampung. Kalau di sini bilangnya tanggul. Di situ ternyata banyak anak yang tidak sekolah,’’ ujar Irna.



Awalnya, untuk membangun sebuah sekolah pada 2009, Irna mengontrak di kompleks Villa Mutiara Gading, Desa Setia Asih, Kecamatan Tarumajaya, Bekasi Utara. Ketika dapat kontrakan pertama, sang pemilik tidak ingin dibayar. Malah, dia menyumbangkan mainan untuk keperluan PAUD seperti perosotan. Tahun berikutnya, barulah Irna membuat SMP.



Untuk menjalankan dua jenjang pendidikan yang berbeda, tentu tidaklah mudah. Awalnya, hanya ada rumah tipe 21 itu. Namun, kalau sekolah terbuka, memang tidak dibutuhkan tempat, bisa di mana saja. Satu rumah dibagi menjadi dua sekolah, yakni PAUD saat pagi, siangnya SMP.



Pertama dibuka, hanya satu murid yang mendaftar, lama-lama bertambah hingga 24 siswa. Seiring waktu, wajar saja, anak-anak memang tidak punya motivasi sekolah. Hingga akhirnya, hanya tersisa 14 siswa. Anak-anak itu berasal dari berbagai kalangan. Ketika mereka kerja, kalau sudah punya uang, datanglah rasa malas untuk sekolah. ’’Akhirnya nggak sekolah. Kami samperin untuk datang ke sekolah. Mau ujian nasional saja kami samperin,’’ terangnya.



Banyak juga anak yang datang ke sekolah atas dasar keinginannya sendiri, tanpa dampingan orang tua layaknya mendaftar sekolah. Syarat untuk sekolah di Rumah Belajar Ilalang adalah ijazah SD. Sebab, Ilalang memang dibuka untuk SMP. Ada yang datang dengan tanpa ijazah meski anak itu merasa dirinya sudah layak SMP. Namun, saat ujian nasional, tentu dibutuhkan ijazah SD. Irna kemudian memberikan solusi untuk ambil paket.



Ada juga siswa yang datang dengan ijazah SD, tapi tidak bisa baca tulis. Bahkan, Irna tak menyangka siswa tersebut memiliki ijazah SD, namun tidak bisa membaca. Kecurigaan itu terjadi ketika Irna meminta bocah tersebut mengisi sebuah formulir. Dia hanya bisa menuliskan nama panggilannya. ’’Saya curiga, dia gak pernah nulis, padahal rajin masuk. Karena dia rajin, saya kasihan,’’ ucapnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore