Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Desember 2016 | 21.02 WIB

Studio Batu Jogja, Rumah Produksi di Ruko yang Lahirkan Film-Film Festival

SEDERHANA: Hosea Athanasius bersama para personel Studio Batu di ruang kerja mereka di Jogja. - Image

SEDERHANA: Hosea Athanasius bersama para personel Studio Batu di ruang kerja mereka di Jogja.

Memproduksi film kini tak harus dilakukan perusahaan besar. Rumah-rumah produksi di daerah saja sudah mampu membikin film kelas internasional. Salah satunya Studio Batu Jogjakarta yang film pendeknya memenangi salah satu kategori di rangkaian Festival Film Cannes, Prancis.





 



GLORIA SETYVANI, Jogjakarta





 



TIDAK ada yang spesial di ruangan di lantai 2 rumah toko (ruko) di Kampung Sosrowijayan, Jogja. Ruangan itu juga tidak begitu besar. Apalagi disesaki perabot macam-macam. Ada meja rapat di tengah. Di atasnya berserakan kertas-kertas catatan bersandingan dengan beberapa botol soft drink.



Juga ada seperangkat meja kursi, lemari, dan kasur yang dibiarkan tergeletak di lantai dengan seprai berantakan. Di salah satu dinding putihnya tertempel kertas pengumuman atau catatan-catatan penting yang menunjukkan aktivitas penghuninya.



Pemandangan di ruangan itu memang terkesan seperti kamar kos-kosan mahasiswa. Hanya lebih besar saja. Tapi, siapa sangka bila ruangan tersebut adalah kantor para sineas muda. Bahkan, dari ruang itu telah lahir beberapa film yang menang di festival tingkat nasional maupun internasional.



Bagi orang-orang yang bersinggungan dengan dunia perfilman, alamat kantor itu sudah tidak begitu asing. Ya, itu alamat Studio Batu, rumah produksi yang telah melahirkan film pendek Prenjak, The Year of Monkey. Film itu mencatat sejarah sebagai film pendek terbaik dalam Semaine de la Critique 2016, Festival de Cannes. Prenjak juga dinobatkan sebagai film pendek terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2016.



Selain Prenjak, Studio Batu pernah memproduksi film Lembusura yang berhasil masuk kompetisi Berlinale Shorts dalam Berlin International Film Festival (Berlinale) 2015 Ke-65.



Memang, yang belum pernah mampir ke Studio Batu sangat mungkin akan terkecoh dengan alamat mereka. Jawa Pos beberapa kali harus mondar-mandir di sepanjang Jalan Sosrwojiyan untuk mencari bangunan bernomor 36. Apalagi, alamat itu berada di antara banyak hotel dan minibar yang berjejer di jalan belakang Malioboro tersebut.



’’Cari Studio Batu ya? Itu, di atas. Lewat samping saja,’’ kata seorang pramuniaga yang menjaga minimarket di bawah kantor Studio Batu.



Ragu, Jawa Pos tetap mengikuti arahan si penjaga minimarket. Setelah melewati rumah tua dengan lampu teras yang remang, lalu naik tangga menuju lantai 2, barulah sampai di alamat yang dimaksud.



Suasana langsung berubah begitu masuk ke ruang kerja Studio Batu. Ramai dan acak-acakan. Lagu hit era 2000-an diputar cukup kencang. Tiga anak muda ikut bernyanyi keras-keras sambil memainkan gitar. Mengetahui ada tamu, ketiganya langsung beranjak dari tempat duduk dan menyambut dengan hangat.



Seorang di antara mereka bernama Hosea Athanasius Mradipto Hatmaji, 24. Sea –sapaan akrabnya– adalah salah satu orang penting di balik Studio Batu. Sejak didirikan dua tahun lalu, lulusan Hellenic College Holy Cross Greek Orthodox School of Theology, AS, itu ikut mengawal kelahiran Studio Batu. Dia berperan sebagai penasihat saat produksi film berlangsung.



Studio Batu lahir secara tidak disengaja dan tanpa rencana. Semua bermula dari pertemanan para perintisnya yang sama-sama alumnus SMP Stella Duce 1 Dagen, Jogjakarta. ’’Terbentuk secara organik,’’ kata Sea mengawali ceritanya di Studio Batu, Sabtu silam (26/11).

Editor: Fim Jepe
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore