alexametrics
Kenduri Cinta

Ketika Cinta KPK terhadap Koruptor Bertepuk Sebelah Tangan

Orang-orang KPK Itu Bukan Orang Hebat, Tapi Pejuang
14 April 2019, 02:00:52 WIB

Hidup tanpa cinta memang akan terasa hampa. Seolah dunia begitu sempit dan menyiksa. Namun, jika kehidupan ini terisi dengan cinta maka seolah-olah dunia indah bagai di surga. Hubungan cinta antara dua insan memang akan terasa indah jika keduanya saling berbalas mencinta. Namun, jika cinta itu tak terbalas, insan itu akan begitu tersiksa.

 

KUSWANDI, Jakarta

 

DINGINNYA embusan angin pada Jumat (12/4) malam itu menusuk tulang sumsum ribuan Jamaah Maiyah ‘Kenduri Cinta’. Namun mereka tak begitu menghiraukannya. Semakin malam, jamaah hajatan yang digelar saban bulan di pekan kedua itu justru semakin tumpah ruah. Mereka berduyun-duyun datang dari berbagai penjuru kota Jakarta dan sekitarnya, memadati area halaman depan pusat kesenian yang terletak di bilangan Jakarta Pusat. Tua, muda, laki-laki, dan perempuan berkumpul menjadi satu. Ada yang duduk di atas tikar, terpal, ataupun beralaskan koran bekas di depan tenda. Ada pula yang berdiri di samping, belakang, hingga ke beberapa tempat di sekitar kompleks kesenian seluas 9 hektare tersebut.

Mereka tampak takzim mendengarkan berbagai ceramah agama atau orasi kebudayaan dari berbagai narasumber yang didatangkan panitia acara. Terlebih pada saat sang empunya hajat budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) memperkenalkan penyidik senior KPK Novel Baswedan dan beberapa koleganya dari KPK menjadi tamu istimewa yang hadir pada malam itu. Usai memperkenalkan Novel di hadapan jamaah, ayah dari Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto) ini pun mempersilakan pria yang duduk lesehan di sampingnya tersebut memberikan sepatah kata kepada ribuan jamaahnya.

“Kalau di KPK kan kerjanya berantas korupsi dan yang dikejar koruptor. Tadi kalau saya dengarkan ceramah-ceramah yang disampaikan, kita di sini sedang berbicara tentang ‘Kenduri Cinta’. Masya Allah, ini hebat sekali,” ucap Novel di depan ribuan jamaah yang memadati halaman Taman Ismail Marzuki, Jumat (12/4) malam.

Novel pun kemudian menganalogikan rasa cinta lembaganya terhadap para pelaku korupsi yang terjerat di lembah kenistaaan.

“Sebenarnya orang-orang di KPK yang memberantas koruptor itu karena cinta dengan koruptor. Orang berbuat korupsi atau berbuat jahat, awalnya dia berbuat, lama-lama dia kejebak nggak bisa keluar. Dia berbuat terus karena apa? Orang korupsi satu kali dia akan berbuat, yang kedua dan kemudian dia tidak bisa keluar,” kata suami Rina Emilda tersebut.

Karena tak bisa keluar dari zona kejahatan, lanjut Novel, KPK datang untuk menolong oknum koruptor tersebut agar hidupnya terselamatkan.

“Ketika orang sudah berbuat korupsi satu kali berbuat satu kali dua kali mungkin Allah akan masih biarkan. Masih ditutup aibnya. Sudah kesekian kali maka ketahuan, Allah buka aibnya. Begitu ketangkap, pada dasarnya orang-orang kami di KPK itu sedang menolong dia,” jelas mantan Kasatreskrim Polresta Bengkulu tersebut.

Caranya, kata Novel, yakni ditangkap kemudian dipenjara agar orang tersebut tidak melakukan korupsi lagi. “Berarti cinta nggak sama orangnya? Cinta kan, ya? Jadi seperti itu gambarannya,” ungkap mantan Kasatgas kasus korupsi pengadaan e-KTP tersebut.

Novel menjelaskan, orang yang melakukan korupsi kemudian menumpuk hartanya, secara logika seharusnya hidupnya senang. Namun, yang terjadi hidupnya malah menjadi beban karena harta bendanya digunakan untuk maksiat.

“Hidupnya berantakan, keluarga berantakan semuanya. Ini pengalaman sekian lama saya jadi penyidik tindak pidana korupsi. Saya lihat itu yang terjadi. Tidak pernah ada koruptor yang keluarganya rukun. Keluarganya bahagia itu nggak ada,” kata Novel.

Jadi menurut Novel, beruntunglah semua yang waras, yang berpikir sehat dan kemudian menjaga diri agar tidak terjerumus menjadi koruptor. “Ketika dia (koruptor) kemudian bermasalah dengan harta-hartanya, kita menolong dia. Kita sita hartanya semua. Kita ambil biar nggak jadi berat buat dia. Berarti apa? Saya katakan tadi, jadi kita cinta dengan mereka. Tapi cintanya bertepuk sebelah tangan,” ungkap Novel.

Akibat bertepuk sebelah tangan, para penggawa lembaga antirasuah pun kerap mendapatkan perlawanan balik dari para koruptor, seperti penyiraman air keras yang dialaminya dua tahun lalu.

“Kenapa? Biasanya, kebanyakan koruptor begitu ketangkap, dia begitu jengkelnya. Itu yang terjadi. Dan kemudian karena kejengkelannya, kadangkala ada beberapa di antaranya berbuat maksiat yang kedua. Apa itu? Dia berlaku zalim. Menyerang, melawan, dan lain-lain,” urai Novel.

Novel menegaskan, meski kerap mendapat perlawanan balik, dirinya merasa tidak mengalami kerugian atas ikhtiarnya bersama sejumlah koleganya di KPK untuk membersihkan negeri ini dari korupsi.

“Saya pernah bertemu dengan seseorang terus dibilang, ‘waduh kamu kena serang kasihan’. Tapi kalau bicara kasihan itu menurut saya sebetulnya nggak pas. Kenapa? Yang pertama, bukankah segala sesuatu yang terjadi Allah sudah takdirkan, Allah sudah ridai. Kalau Allah nggak takdirkan, Allah nggak izinkan, nggak mungkin terjadi,” tegas Novel.

“Kalau Allah sudah izinkan, yang terjadi itu pasti baik, nggak mungkin nggak baik. Oleh karena itu, mendapat segala kesusahan apa pun logikanya nggak boleh sedih,” imbuhnya.

Novel menjelaskan, dalam kehidupan di dunia, cobaan tidak hanya dengan kesusahan. Kadang, katanya, ketika diuji dengan kesusahan bisa lulus. Namun, ketika diberi cobaan dengan berbagai hal kesenangan, bisa tidak lulus, malah tambah rusak.

“Jadi inilah saya memberikan gambaran tadi, koruptor orang yang kelihatannya kaya, itu padahal orang sedang harus dikasihani. Kenapa? Karena dia tidak bisa berubah, dia berbuat menzalimi diri sendiri, dia berbuat sesuatu yang justru membuat dirinya terjerumus,” jelasnya.

 

Oleh karena itu, Novel pun mengajak kepada semua jamaah yang hadir dalam acara ‘Kenduri Cinta’ untuk memperbaiki diri, membangun akhlak yang baik agar bisa menjadi orang-orang yang betul beruntung dan bisa bahagia.

“Tentunya setiap kesusahan itu adalah suatu berkah yang Allah berikan dan tidak selalu itu menjadi suatu hal yang buruk. Kenapa? Buruk dan baiknya tergantung respons kita. Kalau mendapat kesusahan terus bersikap susah atau ngedumel, atau malah justru berkeluh kesah, pastinya akan menjadi buruk buat dia. Tapi kalau sabar, ikhlas, dan kemudian jadi jalan untuk banyak berdoa, semoga menjadi kekuatan buat kita,” tandas Novel.

Sementara itu, menanggapi hal yang tengah dialami Novel, Cak Nun meyakini hal itu atas seizin Allah. Sehingga dia berkeyakinan, Novel akan mendapat kemuliaan dalam hidupnya.

“Allah itu konsekuen. Kalau beri perintah dia sudah sediakan balasannya, berkatnya, kemuliannya. Beliau (Novel) sudah mendapatkan kemulian dalam hatinya, dan saya yakin beliau sekeluarganya sampai anak turunannya mendapatkan karunia dari Allah,” ucap suami Novia Kolopaking tersebut.

Terkait hal yang dialami Novel, Cak Nun meyakini baik dirinya maupun jamaah maiyah belum tentu berani dan tegar seperti Novel. Oleh karena itu, Cak Nun meminta kepada jamaahnya untuk bersikap rendah hati, simpati, dan mendoakan Novel agar menemukan titik keseimbangan dalam hidupnya.

“Kesimbangan itu artinya kalau utang dibayar. Kalau nggak dibayar akan ditagih. Tagihan Allah akan datang, tinggal soal waktu saja. Barang siapa berutang maka Allah akan menagih. Mestinya negara yang menagih, tapi sampai dua tahun (kasus penyiraman air keras Novel, Red) tidak ada tagihan dari negara,” ucap pria kelahiran Jombang, Jatim, 65 tahun yang silam tersebut.

Lebih lanjut menurut Cak Nun, karena tidak ada tagihan dari negara maka suatu saat nanti akan ada petugas-petugas lain yang menagih pengungkapan kasus Novel. Ini karena menurutnya, orang-orang KPK itu bukan orang-orang yang hebat, tapi pejuang. Mereka hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

“Kita tidak perlu ngomong teknis soal korupsi dan segala macam, tapi harap Anda tahu bahwa beliau adalah sahabat dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai Allah yang benar dalam kehidupan di Indonesia. Kita tidak mau jadi pahlawan, kita tidak mau jadi hero, kita cuma melakukan apa yang wajib dilakukan,” pungkas Cak Nun.

Editor : Kuswandi

Copy Editor : Fersita Felicia Facette

Close Ads