
Cak Nun kala menggelar tatap muka bersama wartawan di Rumah Makan Padang Sederhana, Kota Semarang, Rabu (3/4).
JawaPos.com - Sebuah video yang menunjukkan prediksi penceramah Emha Ainun Nadjib atau biasa disapa Cak Nun yang mengungkapkan bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) akan menyerang Iran viral di media sosial.
Prediksi ini terbukti benar setelah Israel dan AS menyerang Iran dan puncaknya membuat pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei tewas. Bahkan, Cak Nun turut memprediksi bahwa Arab Saudi akan membela Israel dan Amerika pada perang tersebut.
“Suatu hari Iran akan diserang Israel dan Amerika, nanti Arab Saudi bisa dipastikan akan membela Israel. Pertanyaannya untuk Indonesia, Indonesia akan bela mana? bela Iran apa bela Israel?,” kata Cak Nun pada sebuah video yang beredar.
Ia pun mengungkapkan harapannya agar Indonesia bisa mengantisipasi adanya provokasi dari luar ataupun dari kebodohan yang berasal dari dalam negeri. Bahkan, provokasi ini diprediksinya juga dilakukan di Arab Saudi.
“Israel itu juga melakukan provokasi-provokasi yang luar biasa di Arab Saudi dengan meningkatkan faham-faham yang kemudian menguasai Masjid Nabawi, Masjidil Haram, yang tujuannya sederhana yaitu memutus hati umat Islam dengan rasulullah SAW.
“Artinya Anda ndak boleh mesra dgn rasulullah, dan tidak boleh pegang-pegang tembok makam beliau, pokoknya kuncinya strategi dr as adalah putuskan hubungan hati cinta, umat kepada rasulullah. Jadi provokasinya dari adu domba fisik hingga batin,” tambahnya.
Sementara itu, teruntuk kondisi terkini di Timur Tengah kini memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah serangan militer besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di Teheran.
Kabar tersebut dikonfirmasi media pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency, yang menyebut kematian Khamenei sebagai pukulan besar bagi Republik Islam Iran. Pemerintah Iran langsung menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Serangan yang menghantam sejumlah fasilitas pertahanan dan infrastruktur sipil di berbagai kota itu disebut Teheran sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara.n
