
Iti Octavia Jayabaya menyaksikan patung Adinda saat pembukaan Museum Multatuli di Rangkasbitung (11/2).
Bupati Lebak harus berhadapan dengan beragam kecaman sejak menjadikan pembangunan Museum Multatuli sebagai prioritas. Ide awal bermula dari pertemuan kecil yang melibatkan sejarawan, guru, arsitek, dan wartawan.
ANDRA NUR OKTAVIANI, Rangkasbitung
---
"TEROR" itu datang bertubi-tubi kepada Iti Octavia Jayabaya. Isinya kecaman, kritik tajam, atau omongan kasar terhadap rencana bupati Lebak, Banten, tersebut mendirikan Museum Multatuli. "Loba gaya pisan sih nyieun museum (banyak gaya sekali mau membuat museum, Red)," kata Iti menirukan salah satu kecaman Ada juga, lanjut Iti, yang bilang, Lebak teu butuh museum (Lebak tidak butuh museum). "Atau Lebak teu pantes nyieun museum (Lebak tidak pantas membuat museum)," kata Iti lagi yang menerima semua pesan itu melalui SMS (short message service) dan media sosial.
Tapi, semua teror tersebut tak sedikit pun mengendurkan niat Iti. Hasilnya, pada Minggu lalu (11/2) resmi dibukalah Museum Multatuli, museum antikolonialisme pertama di Indonesia. Yang bisa dijangkau dari Jakarta hanya dengan merogoh kocek Rp 8 ribu menaiki kereta rel listrik (KRL).
Museum itu mengambil nama pena Eduard Douwes Dekker, orang Belanda mantan asisten residen Lebak. Lewat karya termasyhurnya, Max Havelaar (1860), dia mengisahkan penindasan dan ketidakadilan penguasa kolonial dan pribumi terhadap rakyat kecil di kawasan selatan Banten tersebut.
Iti tentu bukan satu-satunya yang berperan dalam berdirinya museum. Ide awalnya bahkan bermula dari pertemuan kecil antara sejarawan Bonnie Triyana dan guru sekaligus penggiat kajian Multatuli Ubaidilah Muchtar, Bambang Eryudhawan dari Ikatan Arsitek Indonesia, serta wartawan Tempo Kurie Suditomo sembilan tahun silam.
Mereka kemudian mengomunikasikannya dengan Pemerintah Kabupaten Lebak. Iti yang mulai menjabat Januari 2014 menyambut baik ide tersebut. Bahkan menjadikannya salah satu prioritas.
Maka, dimulailah penyusunan konsep, riset, dan perburuan artefak. Menurut Ubay, sapaan akrab Ubadilah yang kini menjadi kepala Museum Multatuli, riset dilakukan sejak 2015. Termasuk untuk menentukan lokasi museum. Rumah asli Multatuli yang berada di belakang RSUD Adjidarmo Rangkasbitung dianggap kurang representatif.
"Pada 2016 akhirnya diputuskan menggunakan eks Kantor Wedana Rangkasbitung yang merupakan bangunan cagar budaya," kata Ubay yang juga kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak.
Bonnie yang juga terlibat sebagai tim periset mengatakan, karena berbicara tentang kolonialisme keseluruhan, riset pun dilakukan dengan mencari beragam data tentang zaman tersebut. Pencarian dilakukan hingga ke Belanda.
Sayang, pencarian itu tidak banyak membuahkan hasil. Tak banyak artefak yang bisa ditemukan. "Tapi, kami berupaya mendatangkan beberapa barang dari sana. Ada tegel rumah Multatuli dan buku Max Havelaar cetakan pertama bahasa Prancis," terang dia.
Setelah mengumpulkan artefak yang tidak seberapa itu, Bonnie dan tim menentukan timeline, storyline, dan konsep ruangan museum. Akhirnya diputuskanlah empat tema yang dibagi ke dalam tujuh ruangan.
"Empat tema tersebut adalah Sejarah Datangnya Kolonialisme, Multatuli dan Karyanya, Sejarah Banten dan Lebak, serta Lebak Masa Kini," jelas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Wawan Ruswandi.
Pematung Dolorosa Sinaga ikut digandeng dalam proyek museum itu. Dosen Institut Kesenian Jakarta tersebut menghadirkan patung bermaterial tembaga yang terdiri atas tiga objek utama: Multatuli, Saidjah, dan Adinda. Saidjah dan Adinda adalah dua karakter yang dicuplik dari salah satu bab di Max Havelaar.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
