alexametrics
Hidup dan Perjalanan Didi Kempot (7)

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis

Seorang Penyanyi, Suami, dan Ayah Tercinta
13 Mei 2020, 12:06:32 WIB

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus untuk anak bungsunya yang mewarisi bakat menyanyinya.

DUWI SUSILO, NgawiANTONIUS CHRISTIAN, Solo, Jawa Pos

TAK lama setelah turun dari kendaraan umum itu, bisa jadi Didi Kempot langsung menepuk jidat sendiri. ”Duh, aseeem, kesasar!”.

Betapa tidak, tujuannya siang itu adalah Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Tapi, dia malah turun di desa dan kecamatan yang berbeda, meski masih di Ngawi juga. Jarak dua desa di kabupaten ujung barat Jawa Timur itu 15 kilometer.

Lho, kan tinggal dilanjutkan dengan naik kendaraan umum? Didi pada awal 1990-an itu bukanlah Didi seperti yang dikenal orang beberapa tahun terakhir. Kala itu dia masih mengandalkan mengamen untuk menjumput rupiah.

Sangu (uang saku)-nya mepet sekali waktu itu. Tapi, bukan Didi kalau menyerah begitu saja.

”Modal bensin seliter montorku tak setater//Tak ampiri arep tak ajak muter-muter.” Demikian tulisnya dalam Sekonyong-konyong Koder untuk menggambarkan keberanian (atau kenekatan) seorang pejuang cinta.

Dari Desa Keras Kulon, Kecamatan Gerih, tempat dia salah turun, ditempuhnya jarak 15 kilometer itu dengan berjalan kaki. Demi bisa menemui sang pujaan hati: Saputri.

”Didi cerita ke saya, selepas magrib dia baru nyampai (di rumah Saputri, Red) karena harus berjalan kaki,” ungkap Nur Muhamadi, kepala Desa Majasem, kepada Jawa Pos Radar Madiun yang menemuinya Senin lalu (11/5).

TERUS DIKENANG: Nur Muhamadi menunjukkan foto pernikahan Didi Kempot dengan Saputri (DUWI SUSILO/JAWA POS RADAR NGAWI)

Nur adalah sahabat Didi dan Saputri. Dia sangat tahu romansa keduanya hingga akhirnya berujung pernikahan.

Nur mengenal Didi semasa adik komedian Mamiek Prakoso itu masih mengamen di Jakarta, termasuk di bus-bus. ”Saya masih jadi sopir bus antarkota waktu itu. Akhirnya kami akrab, sudah seperti saudara,” kata pria 51 tahun tersebut.

Jawa Pos Radar Madiun sebenarnya juga mampir ke kediaman Saputri di hari yang sama. Namun, pihak keluarga memberitahukan bahwa perempuan yang dinikahi Didi pada 1994 itu belum berkenan menemui karena masih butuh ketenangan setelah sang suami berpulang Selasa pekan lalu (5/5).

Pertemanan dengan Kothor-lah yang membuka jalan Didi untuk mengenal Saputri. ”Dulu sesama perantauan yang berasal dari Desa Majasem sering kumpul dan kadang Didi juga ikut nimbrung,” kenang Kothor.

Semula Kothor tak mengira bahwa sahabatnya itu menaruh hati kepada Saputri. Sebab, untuk orang yang telah menulis puluhan bahkan ratusan lagu romantis, Didi ternyata bukan tipe perayu.

”Didi itu orangnya tidak terlalu menunjukkan, apalagi ngomong kalau menaruh hati dengan Saputri,” kenang Kothor.

Pada suatu hari di 1994, Didi bersama kakaknya, Mamiek Prakoso dan sejumlah keluarga datang untuk melamar Saputri yang ayahnya berpulang sejak dia masih kecil. ”Kebetulan, saat itu kakak Saputri sedang berada di Jakarta. Saat itu juga berlangsung ijab kabul dengan wali kakaknya,” terangnya.

Saputri-lah yang menyaksikan bagaimana sang suami banting tulang berjuang dari bawah. Termasuk, dia sendiri juga merasakan gunjingan karena memilih bersuami seorang pengamen. Padahal, kata Kothor, ada pria lain dengan pekerjaan yang lebih mapan yang juga menginginkan dia saat itu.

Bahkan, sebelum menikah pun, papar Kothor, Saputri sering diajak Didi ngamen. Kalau sedang nggenjreng di daerah pertokoan, biasanya Saputri ditinggal di sebuah warung. ”Sedang kalau saat berada di bus, kalau ada bangku kosong, Saputri duduk di bangku kosong tersebut,” ugkapnya.

Saputri hamil saat keduanya masih berada di Jakarta. Namun, atas dasar permintaan dari keluarga di Ngawi, proses kelahiran diminta di kampung halaman saja.

Anak pertama Didi Kempot ternyata lahir dalam kondisi prematur. Si upik yang diberi nama Lintang Ayu Tyas Prastri itu meninggal saat baru berusia 6 bulan.

”Didi sedih sekali karena saat istri melahirkan hingga anaknya meninggal, dia tidak bisa pulang akibat kondisi ekonomi sedang sulit. Tidak ada biaya pulang,” bebernya.

Sedangkan anak kedua pasangan itu, Siola Putri Reginaresi, kini menemani sang ibu di Ngawi. Sebenarnya mereka juga dikaruniai seorang anak lagi, tapi meninggal saat masih berada dalam kandungan.

Setelah kepergian anak pertama tersebut, Didi mulai sering pergi ke Suriname untuk manggung. Bahkan, Kothor masih teringat, saat pertama pergi ke luar negeri, Didi bingung soal cara membuat paspor.

”Nah, setelah kepergian ketiga ke Suriname, Didi menghadiahi istrinya sebuah masjid di sebelah timur rumahnya sebagai bentuk kasih sayang,” ungkapnya.

Meski demikian, kondisi perekonomian Didi belum bisa dibilang mapan. Baru membaik dan stabil setelah meledaknya lagu Stasiun Balapan. ”Dari situlah sosok Didi Kempot tidak lagi dipandang sebelah mata dan mulai membangun rumahnya yang ada di Majasem,” terangnya.

Sebelas tahun setelah menikah dengan Saputri, Didi menikah lagi dengan seorang penyanyi dangdut yang dikenalnya saat road show Stasiun Balapan, Yan Vellia.

”Saya kenal dengan Mas Didi sejak 1997. Kami menikah pada 2005,” kata Yan saat dihubungi Jawa Pos melalui WhatsApp tadi malam.

Yan saat itu adalah penyanyi dangdut dari kelompok OM Ervana 87. Grup musik itulah yang mengiringi Didi Kempot tampil di berbagai tempat.

”Jadi, memang ketemunya di panggung,” ujar Yan yang ketika itu sempat dibuatkan lagu khusus oleh Didi dengan judul Pokoke Melu kepada Jawa Pos Radar Solo di sela peringatan tujuh hari wafatnya Didi Kempot di Solo Minggu malam lalu (10/5).

Didi, kata Yan, bukan pria romantis. Didi tak pernah menggombali dirinya. ”Syairnya romantis, tapi beliau tidak pernah menjanjikan sesuatu. Nggak pernah bilang I love you. Dia itu (memberi) bukti,” kelakar Yan.

Dari pernikahan itu, keduanya dikaruniai dua buah hati, Saka, 10, dan Seika, 3. Karena sama-sama berlatar belakang penyanyi, Didi dan Yan sering berduet di panggung maupun saat rekaman. Sebagian lagu yang dinyanyikan Yan secara solo seperti Ojo Sujono dan Ngalem juga ciptaan sang suami.

Perawan Kalimantan adalah salah satu monumen kebersamaan mereka. Di YouTube, sampai pukul 20.00 WIB tadi malam, video resmi lagu duet suami istri tersebut sudah ditonton lebih dari 19 juta kali.

Yan pula yang selama 1,5 dekade terakhir rajin mendampingi Didi manggung di berbagai tempat. Saat Jawa Pos berkesempatan mewawancarai Didi di sela perhelatan Jazz Gunung di kawasan Bromo, Jawa Timur, Juli tahun lalu, perempuan 38 tahun itu pula yang mengatur waktu dan tempatnya.

Lahir dari ayah dan ibu yang sama-sama penyanyi, Seika, putri bungsu Didi dan Yan, kini mulai memperlihatkan bakat menyanyinya. Sebelum sang bapak berpulang, upik yang biasa dipanggil Seisei itu kerap pamer kemampuan. Didi pun beberapa kali mengajarinya langsung.

”Setiap Mas Didi pulang manggung, anaknya pasti bilang, ’Pak, Saeka sudah hafal lagu Bapak.’ Anaknya langsung naik meja, terus nyanyi. Bapaknya pasti bilang, mantep nduk,” ujar Yan.

Karena tahu potensi sang buah hati, Didi pun sempat membuatkan lagu khusus untuknya, bertajuk Yen Nakal Tak Tutuk. ”Ya, liriknya seperti itu, sampai rampung liriknya Yen Nakal Tak Tutuk. Sudah diunggah di YouTube juga,” katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */dra/c11/ttg



Close Ads