alexametrics

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

8 Mei 2020, 12:35:17 WIB

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya memasak yang membuatnya sempat bekerja jadi pengantar makanan untuk pekerja minyak lepas pantai.

ANTONIUS CHRISTIAN, Solo, Jawa Pos

JOKO Lelur Sentot Suwarso baru selesai bermain musik saat bartender menyuguhinya minuman gratis. Tak cuma dia, tapi juga pengunjung pub lainnya.

’’Dari siapa minumannya,” tanya Sentot ke bartender.

’’Dari Mas yang di meja itu,” kata bartender seraya menunjuk seorang pria yang duduk di salah satu meja.

Suasana agak remang-remang menutupi wajah pria tersebut. Sentot pun datang menghampiri, bermaksud untuk berterima kasih.

Tapi, betapa kagetnya dia setelah mendekat ke meja. Ternyata pria itu Didi, adiknya!

’’Dari mana kamu punya uang sebanyak itu?” tanya Sentot yang belum reda kagetnya.

Dionisius Prasetyo alias Didi atau yang kelak dikenal sebagai Didi Kempot itu akhirnya buka kartu. Meski saat itu masih duduk di bangku SMA, dia mengaku sudah satu setengah tahun terakhir bekerja di Pertamina sebagai pengantar makanan bagi para pekerja yang bertugas di pengeboran minyak lepas pantai.

’’Mas Didi memang punya kebiasaan memasak,” tutur Eko Guntur Martinus, adik Didi, yang menceritakan penggalan kisah masa lalu kedua kakaknya di sebuah pub di Samarinda, Kalimantan Timur, pada 1980-an tersebut.

Didi adalah anak ketiga di antara empat bersaudara, anak seniman tradisional Ranto Edi Gudel. Sentot (almarhum) yang tertua, disusul Mamiek Prakoso (almarhum), lalu Didi yang berpulang Selasa lalu (5/5) terlahir dari ibu Umiyati Siti Nurjanah. Sedangkan Eko anak Ranto dari pernikahan lain.

Masa kecil pria kelahiran Solo, 31 Desember 1966 itu dihabiskan di Ngawi, Jawa Timur, mengikuti sang ibu. Setelah lulus SD, barulah Didi hijrah ke Solo dan bersekolah di SMP 15 Solo.

’’Katanya pengen ikut bapak. Waktu itu rumah kami masih di Turisari, masih ngontrak,” tutur Eko yang juga seniman kepada Jawa Pos Radar Solo.

Penghasilan Ranto sebagai seniman tradisional tak tentu. Itu berakibat pada pendidikan Didi. Dia tak bisa menuntaskan SMP-nya karena masalah biaya.

Pada 1982, akhirnya Didi dititipkan ke pakdenya, seorang anggota Marinir yang bertugas di Segiri, Samarinda. Di sanalah Didi menempuh pendidikan hingga jenjang SMA.

Ada alasan lain kenapa Didi dititipkan. ’’Di rumah Mas Didi itu orangnya alim, pendiam. Tapi, ya nyuwun sewu, kalau di luar memang almarhum itu agak mbeling (nakal),” kata Eko yang usianya terpaut setahun dari sang kakak.

Karena itulah, lanjut Eko, dia dititipkan ke sang pakde yang berlatar belakang militer agar bisa lebih disiplin. Tidak bandel.

’’Selain Mas Didi, yang sekolahnya dibiayai pakde adalah Mas Sentot,” ujar Eko saat ditemui di kediamannya di Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Di Samarinda itu pula, bakat dan interes Didi pada musik kian terasah. Yang kelak turut menjadi modal yang mengantarnya menjadi penyanyi campursari/pop Jawa besar dengan begitu banyak album dan hit.

Sepulang sekolah, lanjut Eko, Didi pasti main ke asrama militer. Di sana dia sering menghibur para prajurit melepas penat setelah seharian bertugas.

Selain musik, hobi memasak Didi terasah di Samarinda. Itu pula yang membawanya bekerja di Pertamina. Itu pun dilakukan diam-diam karena khawatir ketahuan sang pakde.

’’Kadang waktu suplai makanan naik helikopter, kadang naik kapal. Tapi, dari situ Mas Didi sudah punya penghasilan yang lumayan,” urai Eko.

Eko Guntur Martinus. (ANTONIUS CHRISTIAN/JAWA POS RADAR SOLO)

Baik ketika itu maupun saat namanya melejit sebagai penyanyi dan pencipta lagu, kedermawanan Didi sudah terlihat. Eko juga mengenang sang kakak sebagai sosok yang suka mengalah dalam keluarga. Tapi, begitu ada yang mengganggu saudara, pelantun Ambyar, Banyu Langit, Ketaman Asmoro, Stasiun Balapan, dan banyak hit lain itulah yang maju paling depan.

’’Pernah suatu kali waktu kecil saya membawa satu stoples kelereng milik dia untuk saya mainkan. Karena saya paling kecil di antara teman-teman bermain, saya dicurangi dan kelereng dalam stoples pun habis,” kenang Eko.

Begitu tahu, Didi langsung menantang mereka yang telah mencurangi sang adik. Kebetulan, dia memang jago main kelereng. ’’Stoples pun langsung terisi penuh lagi, hehehe,” kata Eko.

Karakter Didi yang mengayomi itu juga diingat betul oleh Anggitha Sulistyaningrum. Model 27 tahun yang dua kali membintangi klip video lagu-lagu Didi itu menyebut almarhum selalu memotivasinya.

’’Itu yang bikin saya tak pernah minder, meskipun saat syuting pertama saya tak kenal lagu-lagu Om Didi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Momen lain terkait Didi yang tak terlupakan dari benak Eko adalah saat pernikahannya pada 1994. Didi tidak datang ketika itu dengan alasan sibuk dengan jadwal manggung.

Eko tentu kecewa ketika itu. Namun, belakangan dia baru tahu bahwa sang kakak tidak datang karena waktu itu perekonomiannya belum mapan.

’’Waktu itu sebenarnya dia sudah sering Belanda, ke Suriname, untuk manggung. Tapi, waktu itu ekonominya hanya cukup untuk makan sehari-hari,” tuturnya.

Didi, tutur Eko, malu kalau datang cuma sebagai tamu, tidak bisa membantu membiayai pernikahan sang adik. ’’Dia orangnya tidak mau orang-orang, bahkan saudara sendiri, tahu kalau dia susah,” ujar Eko.

Karena merasa sudah punya uang, Didi memilih untuk pulang ke Solo saat masih duduk di kelas 2 SMA. ’’Waktu itu kontrakan kami sudah pindah ke daerah Baron,” tuturnya.

Setibanya di Solo, barulah Didi Kempot mengungkapkan keinginannya untuk berhenti bersekolah dan memilih menjadi pengamen. Dia sampai menjual sepedanya agar bisa membeli sebuah gitar untuk model mengais rezeki di Kota Bengawan.

Sang ayah awalnya tak begitu setuju. Tapi, akhirnya merelakan karena menganggap siapa pun bisa sukses meski tak berpendidikan tinggi.

Dari Solo, Didi merantau ke Jakarta. Sikap pantang menyusahkan saudara itu kembali dia perlihatkan. Meskipun ada kedua kakaknya, Sentot dan Mamiek, dia memilih tinggal mengontrak di sekitar pemakaman daerah Slipi, Jakarta.

Dalam wawancara dengan Jawa Pos pada awal tahun ini, Didi menyebut beristirahat siang di pemakaman itu sebagai salah satu kenangan tak terlupakan. ’’Nikmat sekali,” katanya.

Kini rumah di Baron, Laweyan, Solo, yang ditinggali ibunda Eko jadi salah satu saksi betapa Didi sosok yang tahu membalas budi. Setelah sukses, rumah yang dulu dikontrak sang ayah itu dibelinya. ’’Semua direnovasi dan dibiayai Mas Didi. Cuma fondasi dasarnya yang tidak diubah supaya tetap ada kenangannya,” ujarnya.

Dengan segala kenangan itu, tak heran Eko begitu ambyar sesampai di ruang jenazah Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, pada Selasa pagi lalu itu. Dia tak kuasa melihat sosok sang kakak terbujur kaku dengan dibungkus kain selimut warna hijau.

Pria yang akrab dipanggi Eko Gudhel tersebut sempat membuka kain yang menutupi bagian wajah. ’’Waktu saya buka, saya pegang pipinya, sudah dingin. Rasanya saya belum percaya kalau itu Mas Didi,” katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/ttg

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads