
MENUNTUT HAK: Kamp Tuapukan di Desa Oebelo, Kupang Tengah, NTT. (RISNO PAKUR FOR JAWA POS)
Photo
MENUNTUT HAK: Risno Pakur (kanan) dan Egi Soares. (RISNO PAKUR FOR JAWA POS)
Menurut Risno, dana yang dipakai untuk membeli lahan permukiman dan pembangunan resettlement atas Oebelo tersebut bersumber dari dana hibah pemerintah Jepang. Pada 2015, Aliansi Perjuangan Rakyat NTT (APR NTT) melakukan rapat dengar pendapat dengan pemerintah dan wakil rakyat setempat. ”Tapi, belum ada realisasi untuk tuntutan sertifikasi lahan,” paparnya.
Sekarang kamp pengungsian seluas 3 hektare itu dihuni mayoritas warga eks Timtim generasi ketiga. Kebanyakan orang tua mereka yang kali pertama menempati lahan tersebut sudah meninggal.
”Kami ingin masalah ini (sertifikat tanah) cepat diselesaikan karena menyangkut masa depan anak dan cucu kami nanti,” kata Antonio Da Costa, salah seorang warga yang juga tinggal di kamp tersebut.
Film Atambua 39 Derajat Celsius rilisan 2012 juga menggambarkan situasi sulit para warga eks Timtim ini. Mereka tinggal di rumah-rumah beratap seng dan beralas tanah. Sebagian juga harus tinggal terpisah dari keluarga menyusul kerusuhan pascareferendum 1999 yang akhirnya berujung kepada Timor Leste merdeka.
”Dulu aku mencari kayu di sana, mencari burung-burung liar,” kata salah seorang warga kepada Ronaldo, salah satu karakter di film garapan Riri Riza tersebut, sambil menunjuk ke arah Timor Leste. ”Tapi, sekarang ada tentara berjaga.”
Sepanjang film tersebut, ada getir seperti itu: tanah Timor di mana Timor Barat (masuk NTT, termasuk Kupang dan Atambua di dalamnya) dan Timor Timur (kini Timor Leste) berada yang kini terbelah.
Juga cinta yang tak terbantahkan kepada Indonesia di satu sisi. Dan, tarikan kerinduan dari tanah kelahiran di seberang di sisi lain. Riri Riza menggambarkan kontras itu lewat sosok ayah dan anak, Ronaldo serta Joao. Ronaldo yang prointegrasi meninggalkan istri dan anak yang sedang dikandung untuk menyeberang ke Indonesia dengan membawa si kecil Joao. Dan, di negeri tempat dia bekerja serabutan sebagai sopir itu, Joao tumbuh tanpa belaian kasih ibu yang cuma dia kenal suaranya lewat rekaman kaset usang.
Entah apakah hal yang sama juga dirasakan Egi, Okky, Antonio, atau warga penghuni Taupuan yang lain. Yang pasti, seperti disaksikan Risno, waktu yang tak pendek, hampir dua dekade, menunjukkan loyalitas mereka.
Tapi, di sisi lain, mereka juga ingin didengar. Risno membantunya, termasuk dengan membawa persoalan itu ke ibu kota Jakarta agar mendapat perhatian lebih luas.
”Kami berharap lembaga bantuan hukum (LBH) dan teman-teman CSO (civil society organization, Red) bisa membantu menyelesaikan persoalan kami,” kata Antonio.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Mengulik Penyebab Rans Carnival Diboikot, Deklarasi Mahasewa hingga Share Revenue UMKM 20 Persen
Profil AKBP Netty Rosdiana, Istri Jenderal Polisi yang Pernah Sindir Seskab Teddy 'Lupa Daratan'
Prediksi Skor Garudayaksa vs PSS Sleman: Sama-Sama Terluka, Duel Pakansari Rawan Berakhir Imbang
5 Pekerjaan Terbaik untuk Introvert, Pilihan Karir yang Sesuai dengan Kelebihan Diri
Fitrah Maulana Syukuri Debut dan Cleansheet di ACL Two Bersama Persib Bandung
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs PSS Sleman: Kejutan atau Deja vu Final Championship Musim Lalu
Prediksi Skor Dewa United vs Persija di Super League: Macan Kemayoran Amankan Poin Penting di Banten
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
Jack Miller Ungkap Alasan Marah di Sprint Race MotoGP Malaysia, Minta Maaf ke Pramac Yamaha

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022