
Pengunjung dapat sepuasnya melihat koleksinya dari mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Berbagai jenis sepeda motor, seperti Harley Davidson, Vespa, Lambretta, Indian dapat ditemui di sini.
Lantaran banyaknya koleksi motor, sepeda dan mobil antik yang dimiliki, David Sunar Handoko lantas membuka museum di rumah pribadinya. Kini masyarakat pun bisa menikmati koleksinya. Bahkan tidak hanya motor antik, tetapi juga benda antik lainnya.
Ridho Hidayat, Jogjakarta
JawaPos.com – Mempunyai koleksi ratusan motor antik, sepeda dan mobil tentu susah-susah gampang. Pasalnya selain harus rajin-rajin merawat, tentu dibutuhkan kocek lumayan dalam untuk mengurusi motor-motor tua tersebut.
Namun hal tersebut tidak menyurutkan niat Handoko untuk tetap melestarikan keberadaan motor antik di Indonesia. Bahkan niatnya tersebut dibulatkan dengan membuat museum di rumahnya, di Jalan KH Ahmad Dahlan 88 Kota Jogjakarta.
Meski tidak dijual, namun hampir tiap hari ada saja para pecinta otomotif yang berniat membeli koleksinya tersebut. Sejak awal membeli sepeda motor antik, dirinya berniat menyelamatkan motor-motor antik yang mulai tergerus dijual ke luar negeri.
"Dari awal saya memang berniat untuk membuka museum. Baru tahun ini saja, dibuka untuk umum," katanya, ditemui di rumahnya, Selasa (11/9).
Proyeksinya, museumnya ini akan dinamakan 'Merpati Motor'. Mengambil kata Merpati, karena bermakna perdamaian, kesetiaan, dan roh suci. "Merpati itu lambang kesetiaan. Merpati dilepas di manapun, akan kembali lagi. Kami harap punya pelanggan yang pernah datang, bisa kembali lagi," ucapnya.
Untuk umum, masyarakat yang ingin berkunjung ke tempatnya dengan melihat ratusan koleksi ini dibebani biaya sebesar Rp 40 ribu. Itu digunakan untuk biaya perawatan koleksi dan gaji karyawannya. "Itu sudah dapat minum juga," kata Handoko.
Pengunjung dapat sepuasnya melihat koleksinya dari mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Berbagai jenis sepeda motor, seperti Harley Davidson, Vespa, Lambretta, Indian dapat ditemui di sini.
Kemudian ada pula mobil dengan tahun pembuatan 1925 hingga 1970-an. Serta ratusan sepeda kayuh, yang paling tua produksi 1890 didapatkannya dari Belanda. "Saya juga koleksi kacamata, arloji, jam, ada macam-macam pedang. Kemudian senapan angin, batik, Mandau, pisau dari Amerika," ucapnya.
Bagi yang berminat untuk mengunjungi tempatnya ini, aksesnya pun cukup mudah. Berada di sebelah barat Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Kota Jogjakarta atau barat Malioboro kisaran 400 meter. (Bersambung)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
