Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 16 Desember 2024 | 23.59 WIB

Belajar dari Pandemi, Lima Mahasiswa Internasional Kembangkan Kurikulum E-Commerce

KULIAH DI KORSEL: Tim Asia yang beranggota, dua dari kiri, Bunly Ek, Alland Dharmawan, Nastassja Amling, Seonha Choi, dan Julie Dioc menerima penghargaan pada The Geneva Challenge 2024 di Jenewa Swiss - Image

KULIAH DI KORSEL: Tim Asia yang beranggota, dua dari kiri, Bunly Ek, Alland Dharmawan, Nastassja Amling, Seonha Choi, dan Julie Dioc menerima penghargaan pada The Geneva Challenge 2024 di Jenewa Swiss

Digitalisasi menjadi salah satu penggerak ekonomi kala pandemi Covid-19. Kondisi itu membuat lima pemuda-pemudi dari berbagai negara yang bergabung dalam Tim Asia memformulasikan sebuah kurikulum yang memberdayakan pendidikan e-commerce bagi anak muda.

DINDA JUWITA, Jakarta

---

PANDEMI Covid-19 memang telah berlalu. Namun, masa pagebluk itu mengubah kehidupan Dina. Dia adalah remaja 20 tahun yang berasal dari Provinsi Kratie, Kamboja. Lokasinya yang terpencil membuat Kratie tidak terlalu berkembang, terutama soal kemajuan teknologi. Dina dan keluarga menggantungkan ekonominya dari berjualan di toko kelontong. Usaha itu dijalankan dari rumah.

Dengan mata pencaharian tersebut, Dina dan orang tua rutin wira-wiri ke pasar tiap pekan atau bahkan tiap hari. Tujuannya adalah kulakan.

Kondisi itu berubah menjadi suram ketika pandemi mengguncang. Karantina wilayah dan pembatasan sosial menghambat model bisnis tradisional. Pergi ke pasar untuk kulakan tak senyaman sebelumnya. Usaha itu pun menemui paceklik.

Kisah Dina dan keluarga itu lantas dipotret dengan apik oleh Alland Dharmawan, Bunly Ek, Julie Dioc, Nastassja Amling, dan Seonha Choi. Lima pemuda-pemudi tersebut menempuh studi di Korea Selatan (Korsel). Alland, Bunly, Julie, dan Nastassja adalah mahasiswa pascasarjana di Yonsei University, sementara Seonha berkuliah di Seoul National University. Lima sekawan itu membentuk Tim Asia.

Mereka bergabung dalam gelaran The Geneva Challenge 2024. Itu merupakan kontes internasional yang diikuti para mahasiswa pascasarjana yang bertujuan menghadirkan solusi inovatif dan pragmatis untuk mengatasi tantangan pemberdayaan pemuda.

Belajar dari Pandemi

Dalam Tim Asia, Alland didapuk sebagai ketua. Mereka sepakat memotret kisah Dina dalam proposal yang dilombakan. ’’Dina ini sepupunya Bunly. Kami wawancara Dina, melakukan riset tentang Provinsi Kratie, melihat bagaimana tantangan di wilayah itu, dan apa saja skill yang diperlukan oleh anak muda di sana,’’ ujar Alland kepada Jawa Pos, Senin (25/11).

Alland menceritakan, keluarga Dina sempat terlilit utang di bank. Kisah itu pun sejatinya merupakan gambaran lumrah yang dialami hampir semua pedagang kecil saat pandemi Covid-19 melanda.

’’Semua pergerakan dibatasi saat pandemi. Dina tidak bisa ke pasar buat kulakan. Usahanya terlilit utang di bank. Kondisi itu beda sekali dengan di Indonesia. Saat Covid-19, bisnis online naik signifikan di tanah air,’’ jelas pria asal Malang, Jawa Timur itu.

Alland dan tim lantas menarik benang merah. Yakni, paceklik yang dialami Dina dan keluarga itu salah satunya disebabkan kurangnya literasi digital dan akses terhadap teknologi.

Formulasikan DigiBridge

Dengan potret tersebut, Tim Asia lantas memformulasikan sebuah kurikulum yang disebut DigiBridge. Kurikulum itu bertujuan memberdayakan pemuda melalui pendidikan e-commerce guna menjembatani kesenjangan literasi digital. Dengan DigiBridge, pembangunan ekonomi di daerah pedesaan juga diharapkan bisa terakselerasi.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore