Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 September 2018 | 22.14 WIB

Abdul Karim Menyulap Materi Matematika Menjadi Komik Setrip

INOVASI MENGAJAR: Abdul Karim menunjukkan komik setrip. - Image

INOVASI MENGAJAR: Abdul Karim menunjukkan komik setrip.


Abdul Karim selalu memilih kalimat, rumus, dan contoh perhitungan matematika yang ringkas untuk dimasukkan komik setrip. Para murid yang dipilih secara candid untuk jadi "model" pun malah senang.


M. HILMI SETIAWAN, Semarang


---


TIAP kali masuk kelas, tentengan Abdul Karim berbeda dengan kebanyakan guru lain. Tidak sekadar membawa buku-buku bahan ajar, alat peraga, dan sejenisnya.


Guru kelahiran Cirebon, 26 November 1969, itu membawa serta dua kamera profesional. Masing-masing kamera DSLR Canon 1300D dan Canon 760D. "Untuk menjepret wajah anak-anak," katanya ketika ditanya untuk apa dua kamera tersebut.


Setiap kali mengajar di kelas IX, Karim memang selalu menyempatkan diri untuk memotret anak didiknya. Hasilnya dia kumpulkan untuk menjadi bahan baku pembuatan komik setrip.


Bukan sembarang komik setrip yang Karim buat. Melainkan sebuah komik setrip yang berisi materi pelajaran matematika. Aplikasi yang dia gunakan untuk membuat komik setrip adalah Comic Life, yang di dalam kelas dihadirkan dalam wujud slide Powerpoint atau Geogebra.


"Saya foto anak-anak secara candid," katanya ketika ditemui di kediamannya di Semarang, Jawa Tengah, 16 Agustus lalu.


Pengambilan gambar bisa dia lakukan saat duduk di meja guru atau ketika berkeliling kelas menghampiri siswa. Dengan cara itu, menurut Karim, anak didiknya menjadi terjaga selama pelajaran berlangsung. Sebab, jika kedapatan tertidur, si siswa akan difoto, kemudian masuk dalam komik setrip.


Menurut suami Beta Nurbety Tsany itu, upayanya menghadirkan komik setrip yang berisi materi pelajaran matematika dimulai pada awal 2016. Waktu itu dia menjadi guru matematika full time di kelas IX SMP Nasima, Semarang.


Hanya, ketika itu dia belum berbekal kamera profesional. Karim memotret wajah siswanya dengan tablet Samsung Galaxy.


Dia baru menggunakan perangkat kamera profesional pada 2017. Ketika dia sudah tidak mengajar full time di SMP Nasima. Sebab, banyak waktunya tersita untuk organisasi Ikatan Guru Indonesia (IGI). Dia tercatat sebagai pengurus IGI pusat periode 2016-2021.


Nah, pada 2017, Karim menjadi guru kolaborasi atau team teaching mata pelajaran matematika kelas XI di SMA Plus Muthahhari, Bandung. Setiap dua minggu dalam sebulan dia bolak-balik Bandung-Semarang untuk mengajar.


"Saat mengajar di Bandung, saya mulai menggunakan dua kamera profesional untuk memotret siswa," jelasnya.


Memasuki 2018, aktivitas Karim di IGI semakin padat. Menuntut dia keliling Indonesia untuk menjadi guru pelatih. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk berkonsentrasi penuh mengajarkan teknologi pembelajaran kepada guru-guru. Akitivasnya sebagai guru pun berhenti sementara.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore