
MIMPI HIDUP YANG LEBIH BAIK: Kakak beradik Talay (kiri) dan Rose melayani tamu di Zombies Bar, Pattaya (4/4).
Dengan pekerjaan yang dilindungi undang-undang, mereka yang bekerja di dunia hitam Thailand berharap mendapat perlindungan secara hukum dan kesejahteraan sosial. Dengan begitu, mereka bisa sesegera mungkin meninggalkan prostitusi menuju hidup yang lebih layak.
HENDRA EKA, Pattaya
---
DENTUM techno music terdengar dari jejeran bar dan kafe yang berdiri di Soi 7 di Kota Pattaya, Thailand. Soi 7 atau Gang 7 adalah salah satu area paling terkenal di kota yang berada di Provinsi Chonburi itu.
Di sini, seperti yang terlihat pada awal April lalu, dengan bertabur sorot lampu neon warna-warni, para turis yang berniat melampiaskan hasrat akan dengan mudah menemukan ”surga dunia”. Cukup merogoh kocek 40 ribuan rupiah (100 baht), para turis sudah bisa mendapatkan sebotol bir lokal plus ditemani seorang gadis penjaga bar.
Ditambah mentraktir segelas air soda seharga 50 baht, seorang gadis akan setia menemani tamunya hingga pulang. Jika Anda memberinya tips lebih, akan semakin lama dan liar pula mereka menemani.
Pattaya memang telah kesohor sebagai salah satu red-light district populer di dunia sejak era perang Vietnam 1960-an. Demikian pula bagi perempuan Thailand, yang kebanyakan single mom, kala tak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Para gadis Thailand yang ingin meraup uang cepat biasanya memulainya dengan bekerja dari bar ke bar. Jika termasuk gadis beken, mereka akan ditawari ke kelab malam atau go-go bar. Namun, jika kurang beruntung, biasanya mereka hanya akan berakhir di tepi pantai Pattaya, menjajakan diri di sepanjang jalan gelap yang penuh risiko.
Itu yang membuat sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), aktivis, dan anggota parlemen menyerukan legalisasi pekerja seks di Thailand. Mereka prihatin dengan nasib ratusan ribu pria dan wanita di industri tersebut.
Suasana malam di Soi 7, Pattaya.
Tahun ini Empower Foundation, sebuah organisasi nirlaba lokal yang memperjuangkan hak-hak pekerja seks serta perwakilan pekerja seks, mengajukan surat ke berbagai partai politik Thailand. Intinya, mereka menuntut hak-hak dasar dan kesejahteraan dari pemerintah serta mendesak para pekerja seks memperoleh kesetaraan dengan pekerja lainnya.
Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk melegalkan prostitusi telah diajukan ke parlemen. Namun, hingga kini belum ada titik jelas. ”Saya khawatir upaya kami ini sia-sia,” ujar Chatchalawan Muangchan, aktivis Empower Foundation, dalam Pattaya News.
Berdasar data yang dikumpulkan International Union of Sex Workers (IUSW), ada lebih dari 300 ribu pekerja seks komersial (PSK) di Thailand. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat maraknya PSK freelance yang memanfaatkan prostitusi dalam jaringan (daring).
Jika RUU tak segera disahkan, makin banyak pekerja seks yang rentan berbagai persoalan hidup dan kesejahteraan. Undang-undang itu berupaya menggantikan Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Prostitusi yang disahkan pada 1996 dan mengkriminalisasi pekerja seks.

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Hasil Norwegia vs Inggris 1-2 di Piala Dunia 2026: Brace Jude Bellingham Bawa The Three Lions ke Semifinal
Prediksi Argentina vs Inggris di Piala Dunia: Messi Ungkap Jalan Terjal ke Semifinal, Singgung Duel Panas Lawan Three Lions pada 1986
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Beri Nafkah Kecil ke Fangfang, Vicky Prasetyo: Dari Awal Kamu Tahu Saya Punya Anak Banyak
Tragis! Gadis 13 Tahun di India Diperkosa 30 Pria Selama 5 Hari, Para Tersangka Diarak Warga
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
