
BERBAGI KEPADA SESAMA: Panitia membagikan takjil kepada masyarakat yang melaksanakan buka puasa dan salat Magrib berjemaah di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya Sabtu (1/4).
Nuansa toleransi antarumat beragama terasa semakin kuat di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya selama Ramadan. Saat berbuka puasa, semua umat bisa menikmati sajian yang dihidangkan.
HASTI EDI SUDRAJAT, Surabaya
MATAHARI mulai kembali ke peraduannya Sabtu (1/4). Ustad Hasan Basri terlihat di pintu masuk Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya. Di dekatnya terdapat tumpukan minuman dalam kemasan gelas plastik dan bungkusan kurma. Dengan cekatan, tangannya mengambil dan membagikannya kepada masyarakat yang datang ke masjid.
Ustad Hasan tidak sendiri. Belasan relawan turut membagikan takjil serupa kepada pengunjung lain. ’’Untuk membatalkan puasa. Nanti setelah salat Magrib, baru pembagian nasi,” ujar ketua harian Masjid Cheng Hoo Surabaya itu kepada Jawa Pos.
Masyarakat yang datang terlihat duduk di atas terpal yang terbentang di pelataran masjid setelah menerima takjil. Beberapa saling bertegur sapa sembari menunggu azan. ’’Bukan hanya umat Islam yang datang ke sini menjelang azan Magrib,” katanya.
Ustad Hasan sempat menunjuk sejumlah orang yang duduk di pelataran masjid. Mereka disebut tidak berpuasa. Namun, tetap mendapat takjil. ’’Tidak masalah. Ramadan adalah bulan berkah bagi semua umat manusia,” ungkapnya dengan nada mantap.
Menurut dia, mereka tidak salah tempat. Dia justru merasa senang dengan kehadiran mereka karena bisa berbagi. ’’Masjid ini memegang teguh prinsip toleransi,” ucapnya.
Ustad Hasan mengungkapkan, setiap hari selama Ramadan terdapat 550 porsi takjil yang disediakan. Dia pun menekankan sebagian dananya berasal dari masyarakat nonmuslim. Khususnya keturunan Tionghoa di Surabaya. Mereka menyumbangkan dana melalui yayasan yang menaungi masjid.
Buka puasa bersama, lanjut dia, adalah tradisi yang selalu diadakan sejak masjid diresmikan pada 2002. Masyarakat yang datang tidak hanya mendapat takjil. Namun, juga sebuah paket makanan dengan menu beragam.
Lim Fuk San, nama Tionghoa Ustad Hasan, menambahkan, kegiatan masjid yang diresmikan pada 2002 itu lebih padat ketika Ramadan. Di antaranya, ada pengajian pada Minggu pagi. ’’Lebih ke penjelasan ilmu fikih. Mengundang kiai atau ustad yang memang kompeten,” paparnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, kebanyakan imam dan muazin masjid adalah muslim keturunan Tionghoa. Ustad Ahmad Haryono alias Ong Kiem Shui, salah satunya. Dia menjadi imam salat Magrib dan Tarawih ketika Jawa Pos ke masjid tersebut.
Ustad Hasan menjelaskan, masjid yang dibinanya bukan hanya kebanggaan muslim Tionghoa di Surabaya, melainkan juga Tionghoa yang nonmuslim.
’’Jadi, tidak heran banyak juga donatur kami yang nonmuslim,” ujar sarjana Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya (kini UIN Sunan Ampel Surabaya) tersebut. (*/c7/git)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
