Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Maret 2024 | 20.03 WIB

Geliat Industri Pengolah Nikel di Morowali dan Dampak ke Sekitar, Setiap Hujan Selalu Banjir

DUA SISI INDUSTRI SMELTER NIKEL: Kawasan Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP) di Ambunu, Kecamatan Bungku Barat dan Bumi Raya, Kabupaten Morowali. - Image

DUA SISI INDUSTRI SMELTER NIKEL: Kawasan Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP) di Ambunu, Kecamatan Bungku Barat dan Bumi Raya, Kabupaten Morowali.

Banjir memang bukan persoalan baru di Bahodopi, Kabupaten Morowali. Namun, kedatangan perusahaan-perusahaan smelter nikel memperburuk situasi. WALHI mengusulkan evaluasi industri yang sudah beroperasi dan moratorium izin tambang.

SAHRUL YUNIZAR, Morowali-DINDA JUWITA, Jakarta

---

DARI dalam pesawat yang membawa kami dari Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Palu, menuju Bandara Maleo, Kabupaten Morowali, wajah smelter nikel sudah terlihat.

Di Kabupaten Morowali Utara ada PT Gunbuster Nickel Industry (GNI). Sementara itu, di bagian selatan, beberapa perusahaan pengolah nikel berdiri di kanan-kiri Jalan Trans- Sulawesi.

Mulai Bungku Barat terus sampai Bahodopi, keduanya di Kabupaten Morowali. Di sana kawasan industri pengolah nikel raksasa bernama Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) beroperasi. Geliat tersebut tak lepas dari ambisi menjadikan Indonesia salah satu pemain utama industri baterai kendaraan listrik. Tapi, ada harga yang harus dibayar untuk itu: dampaknya ke lingkungan.

Pada siang di akhir Februari lalu (26/2), di tepian salah satu ruas Trans-Sulawesi, kami bertemu Akhirul Azam yang sedang bermain bersama belasan temannya di halaman sekolah mereka, SDN 2 Kurisa, Bahodopi. "Kami mau latihan menari," kata buyung 10 tahun itu kepada Jawa Pos.

Tak jauh dari tempatnya bermain, tampak kubangan air yang kata Azam sudah berkali-kali dikencingi anak-anak kelas 2. Air kecokelatan itu adalah sisa-sisa banjir yang merendam SDN 2 Kurisa. Memang tidak semua kelas di SDN 2 Kurisa bermasalah dengan banjir. Namun, setiap kali hujan deras mengguyur Bahodopi, hampir pasti Azam dan teman-temannya tidak bisa belajar di sekolah.

Menurut Mardiana, salah seorang guru di sekolah itu, banjir terjadi di SDN 2 Kurisa lantaran belum ada tali-tali air. Sementara sekolahnya berada tepat di bawah bukit. Kawasan IMIP berada di atas bukit tersebut.

Mardiana menuturkan, sudah ada rapat antara pihak sekolah, IMIP, dan pemangku kewenangan di Bahodopi. Mereka berniat membangun jalur air agar SDN 2 Kurisa tak lagi kebanjiran. Tapi, sampai akhir bulan lalu, niat itu belum terwujud.

Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sulawesi Tengah (WALHI Sulteng), banjir yang kerap merendam SDN 2 Kurisa adalah contoh dampak aktivitas industri pengolah nikel di Bahodopi. Kawasan yang dibangun dengan memakan lahan ribuan hektare itu mengakibatkan area resapan air berkurang. Alhasil, banjir datang setiap kali hujan deras.

Sejumlah murid SDN 2 Kurisa, Kecamatan Bahodopi, Morowali, bermain di halaman belakang sekolah (28/2).

Masyarakat Bahodopi secara umum juga merasakan masalah yang sama. Sebab, Jalan Trans-Sulawesi di Bahodopi semakin sering terendam banjir. Kondisinya kian buruk karena lalu-lalang kendaraan besar milik perusahaan-perusahaan pengolah nikel. Lubang bermunculan di sana-sini.

Marlina, pekerja di salah satu rumah makan di Dusun Tabo, bercerita bahwa saat banjir datang, air masuk ke tempatnya bekerja.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore