Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 September 2018 | 15.05 WIB

Sembilan Tahun Mencari, Sholeh Akhirnya Bisa Memiliki Kiswah

Sholeh menunjukkan potongan kiswah yang dibelinya dengan mahar Rp 100 juta. - Image

Sholeh menunjukkan potongan kiswah yang dibelinya dengan mahar Rp 100 juta.


Sudah sembilan kali Muhammad Sholeh pergi ke Tanah Suci. Namun, baru tahun ini dia berhasil menemukan barang yang diincarnya. Yakni, potongan kain pelindung Kakbah alias kiswah.


FIRZAN SYAHRONI


Kiswah memang tidak dijual bebas. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki kain tersebut. Biasanya, potongan kiswah hanya dimiliki pejabat atau keluarga besar kerajaan Saudi. Sholeh termasuk salah seorang yang beruntung bisa membeli kiswah.


"Setelah sembilan tahun mencari, baru sekarang menemukan kiswah," kata Sholeh saat ditemui Jawa Pos di Makkah. Jamaah haji asal Surabaya itu lantas menunjukkan kiswah yang baru didapatnya. Ukuran kain itu sekitar 50 x 70 cm dan dihiasi kaligrafi emas bertuliskan Ya Rahman Ya Rahim. "Teman saya sudah memeriksa di toko emas. Benang kaligrafi ini benar-benar terbuat dari emas," kata Sholeh.


Dia mendapatkan kiswah itu atas bantuan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang memiliki hubungan baik dengan petinggi Arab Saudi. Mahar yang dibayar Sholeh mencapai Rp 100 juta. Bagi Sholeh, mahar sebesar itu termasuk murah.


Dia lantas membandingkan dengan kiswah milik mantan Menteri Agama Surya Dharma Ali (SDA) yang dilelang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Kiswah milik SDA saja dilelang laku Rp 450 juta," kata Sholeh.


Sholeh yakin jika kiswahnya asli. Dia berlogika, jika kiswah itu palsu, tentu jumlahnya banyak dan mudah dibeli di toko-toko. "Sebab, orang-orang sedunia memburunya," katanya. Selain itu, warga Arab tidak suka mengoleksi kiswah karena dianggap syirik dan bid’ah. "Karena itu, pembesar Arab mudah memberikannya ke orang lain," ucap Sholeh.


Sebagian orang percaya jika kiswah memiliki tuah khusus. Konon, mereka yang memiliki kiswah akan mendapat kesejahteraan, lancar rezeki, dan disembuhkan dari berbagai penyakit. Karena alasan itu pula, banyak yang memburu kiswah.


Empat tahun lalu, seorang jamaah umrah ditahan polisi Saudi karena ketahuan menggunting kiswah saat tawaf. Saat diinterogasi, perempuan asal Makassar itu mengaku ingin memiliki kiswah untuk pengobatan cucunya yang sakit.


Namun, bukan hal mistis itu yang membuat Sholeh tertarik memburu kiswah. Dia mengaku senang mengoleksi barang-barang antik. Apalagi, kiswah adalah kain yang pernah menempel di Kakbah, kiblatnya muslim sedunia. "Kiswah ini tidak akan saya jual. Akan saya pajang di kantor," kata mantan aktivis mahasiswa itu.


Dalam rilis Kerajaan Arab Saudi, disebutkan bahwa kiswah diproduksi di sebuah pabrik yang berlokasi di lahan seluas 10 hektare di wilayah Umm Al-Joud, pinggiran Kota Makkah.


Bahan kiswah terdiri atas 670 kilogram sutra asli, 120 kilogram emas, dan 100 kilogram perak. Berat total kiswah mencapai 1.150 kilogram. Proses pembuatan melibatkan 200 pekerja dan 23 mesin berteknologi tinggi. Secara keseluruhan, kiswah memiliki tinggi 14 meter dengan lebar total 47 meter.


Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengganti kiswah setiap tahun. Tepatnya setiap 9 Zulhijah atau saat jamaah haji melaksanakan wukuf di padang Arafah. Biasanya, kain kiswah lama dipotong-potong dan dibagikan sebagai souvenir kepada relasi keluarga kerajaan. Nah, potongan kain itulah yang banyak diburu jamaah haji dari berbagai negara.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore