
MENJAGA KERUKUNAN: Komunitas Suabaya FIAT Club (SFC) ikut meramaikan HUT ke-729 Kota Surabaya di depan Hotel Majapahit, Jalan Tunjungan, Mei 2022. (Suabaya Fiat Club untuk Jawa Pos)
Memiliki mobil kuno memang punya tantangan tersendiri. Kalau tidak mogok, ya spare part yang sulit dicari. Apalagi mobil tua pabrikan Italia yang tidak lazim di Indonesia seperti Fiat. Bagi anggota Surabaya FIAT Club (SFC), impor ondersteel menjadi hal biasa. Terpenting, mobil kesayangan mereka bisa jalan.
ARIF ADI WIJAYA, Surabaya
MESIN mobil berkapasitas 1.500 cc itu terdengar meraung-raung ketika gas diinjak. Jarum revolutions per minute (RPM) naik turun mengikuti irama kaki yang menginjak pedal gas. Begitu gigi dimasukkan, pedal kopling dilepas, Fiat 125 special keluaran tahun 1974 berwarna hijau muda itu pun melesat kencang di Jalan Embong Cerme Sabtu (3/12) malam.
Itulah Si Klepon, panggilan kesayangan dari Endarta Laksa Pamungkas untuk mobil Fiat miliknya. Ketua ke-8 Surabaya FIAT Club (SFC) itu punya dua mobil serupa, tapi beda warna. ’’Yang satunya sama, warna hijau juga. Tapi, lebih tua, seperti usia mobilnya,’’ ujarnya.
Malam Minggu lalu Endarta yang akrab disapa Edo menjajal mobil Fiat miliknya yang baru diservis. Meski berusia tua, tenaganya masih oke.
Kecepatan nol ke 100 hanya dicapai dalam waktu 30 detik. ”Ngeri toh, mangkane tuku Fiat,’’ kelakarnya.
Edo mengenal mobil Fiat sejak kecil. Edi Waluyo, ayahnya, sudah memiliki Fiat 125 special sejak tahun pertama, 1974. Beli baru, bukan mobil bekas. Pada tahun 2000, ketika sudah duduk di bangku sekolah dasar (SD), Edo mengaku sering diantar jemput dengan mobil tersebut.
Nah, sejak saat itulah pemuda yang lahir di Surabaya 31 tahun yang lalu itu mulai suka pada mobil Fiat. Ayahnya yang juga ikut SFC sajak kali pertama komunitas tersebut berdiri pada 1997 pun sering mengajaknya kumpul-kumpul bersama pemilik Fiat yang lain.
Tepat Agustus 2022, Edo didapuk sebagai ketua SFC. Total anggotanya saat ini berjumlah 80 orang. Semuanya pemilik mobil Fiat. Koleksi paling langka ada dua. Yakni, Fiat 600 dan 124 Berlina Station Wagon. Yang paling istimewa adalah 124 Berlina Station Wagon. Se-Indonesia, pemiliknya tidak sampai 10 orang.
Setiap Sabtu malam, para pemilik Fiat masih rutin mengadakan acara kumpul-kumpul di Jalan Sedap Malam, tepat di antara balai kota dan rumah dinas wali kota. ”Dulu diberi tempat sama Bu Risma di Tugu Bambu Runcing. Tapi, karena itu rumija (ruang milik jalan), akhirnya pindah ke samping balai kota itu,’’ katanya.
Menurut Edo, mobil lawas Fiat memang lebih menantang dibandingkan mobil lawas lainnya. Untuk urusan mogok, hal itu mungkin menjadi risiko bagi semua pemilik mobil tua. Yang membedakan adalah sulitnya mendapatkan spare part atau orang awam menyebutnya onderdil.
Bagi Edo, pemilik Mercedes atau BMW lawas lebih mudah mendapatkan onderdil dibandingkan Fiat. Sebab, komunitasnya banyak. Di toko-toko aksesori maupun bengkel mobil juga masih banyak yang menjual spare part dua merek mobil Eropa tersebut.
Sama-sama mobil Eropa, mendapatkan onderdil Fiat tidaklah mudah. Di Surabaya, kata Edo, hanya ada satu toko yang menjual spare part Fiat. Itu pun kalau ada. ”Kalau yang dicari nggak ada, ya impor, Bos. Piye maneh,’’ ucapnya.
Alumnus SMA Negeri 10 Surabaya itu mengaku beberapa kali mengimpor spare part maupun aksesori Fiat langsung dari Italia. Salah satunya, emblem logo Fiat yang orisinal. Pernah pula mengimpor karburator dan delco, onderdil di bagian pengapian mesin. Gearbox untuk transmisi mobil juga diimpor dari negara asalnya. ”Tak built up versi racing milik Fiat Abarth. Mangkane banter,’’ katanya, lantas terkekeh.
Lalu, apa yang membuat orang suka dengan Fiat? Edo menilai mobil itu masalah selera. Bagi dia, Fiat memiliki bentuk yang lucu. Kecil, pasti gesit. Kecil mobilnya, tapi kencang larinya.
Selain itu, Fiat memiliki teknologi yang lebih maju di zamannya. Tahun 1970-an, mobil Fiat sudah menggunakan rem cakram depan belakang. Mobil pabrikan Jepang baru melakukannya di tahun 1980-an. Sistem pengapian juga sudah menggunakan dobel karburator di tahun tersebut.
Untuk kenyamanan, Edo menilai suspensi Fiat tidak kalah oleh mobil mewah. Meski kecil, mobil tersebut tetap bisa anteng ketika dipacu pada kecepatan tinggi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
