Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Februari 2024 | 00.21 WIB

Keterbatasan Fisik Tak Surutkan Semangat Elia Rohmawati Kawal Pelaksanaan Pemilu

KOMITMEN PENUH: Elia Rohmawati dan tandan pengenal sebagai relawan pemantau pemilu.

Cari Pengalaman Sekaligus Uji Ketelitian dan Kemampuan Berhitung

Demi bisa total menjalankan tugas sebagai relawan pemantau Pemilu 2024, Elia Rohmawati izin kepada ibunya untuk absen dua hari membantu berjualan ikan asap. Cuaca terik pesisir Gresik di TPS yang tidak berkipas angin jadi kendala, tapi dia tetap ingin berpartisipasi kembali dalam pelaksanaan pilkada serentak pada November mendatang.

LUDRY PRAYOGA, Gresik

---

PELAKSANAAN Pemilu 2024 membuat aktivitas Elia Rohmawati tak seperti hari-hari biasanya. Rabu (14/2) dan Kamis (15/2) pekan lalu, dia memohon izin kepada ibunya tidak bisa membantu berjualan ikan asap di pasar Desa Pangkahkulon, Gresik, Jawa Timur.

Sebab, perempuan 24 tahun itu mendapat amanah dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Gresik untuk memantau pemungutan dan penghitungan suara.

’’Sementara libur jualan dulu. Apalagi tugas pengawasan baru selesai pukul 05.00 WIB (Kamis, 15/2), jadi perlu istirahat,’’ ucapnya kepada Jawa Pos sehari setelah pelaksanaan coblosan Pemilu 2024.

Keterlibatan Elia sebagai pemantau pemilu tidak terlepas dari peran KPI Cabang Gresik. Lembaga itu menerjunkan 50 perempuan inklusi untuk menjadi relawan di beberapa kecamatan. Terdiri atas kelompok difabel, janda, petani, nelayan, dan lansia.

Elia yang mengalami kelainan di punggung sejak lahir termasuk dalam kelompok penyandang disabilitas. ’’Kami mendapat akreditasi pemantau pemilu dari Bawaslu Gresik. Untuk menjadi relawan pemantau dari kalangan akar rumput,’’ papar Ketua KPI Cabang Gresik Duta Bintan.

Elia bertugas mengawasi jalannya pemilu di Desa Pangkahkulon. Tepatnya di TPS 18 desa setempat. Berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya. ’’Pengalaman pertama jadi pengawas di TPS. Sangat antusias meskipun sifatnya hanya sukarelawan dan tidak dibayar,’’ ungkap putri dari pasangan Umar Buang dan Zainab itu.

Elia tertarik mengetahui secara langsung proses pesta demokrasi. Terlebih, pada pemilu tahun ini, banyak anak muda yang terlibat sebagai peserta maupun penyelenggara. Anak sulung dari empat bersaudara itu pun berniat mencari pengalaman. Sekaligus menguji ketelitian dan kemampuannya dalam berhitung. ’’Salah satu tugasnya kan memastikan hitungan suara sesuai. Saya sudah terbiasa karena sering berdagang,’’ ungkapnya.

Hal itu dibuktikan dengan eksekusi di lapangan. Keterbatasan fisiknya tak lantas menyurutkan semangat untuk mengawasi. Bahkan sejak penghitungan suara tingkat pilpres hingga DPRD kabupaten benar-benar rampung. ’’Mulai pukul 14.00 dan baru selesai subuh pukul 05.00,’’ katanya. Partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak suara juga memicu semangat Elia. TPS tetap ramai hingga larut malam.

Meski terbilang lancar, pengawasan yang dilakukan Elia pun bukan tanpa kendala. Cuaca terik di kawasan pesisir pantai utara membuatnya harus menahan panas. ’’Karena di TPS tidak ada kipas angin, terpaksa pakai kardus air mineral untuk kipas-kipas,’’ ujarnya, lantas tertawa.

Selain itu, dia tetap memaksimalkan waktu istirahat untuk beribadah. Bahkan meneguk kopi cukup banyak untuk menahan kantuk. ’’Beberapa kali sempat pulang ke rumah untuk ngeleset sebentar. Untung, jarak TPS dari rumah berdekatan,’’ terangnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore