
MELESTARIKAN TETINGGALAN PURBA: Nuril Anwar saat memandu sejumlah pengunjung Museum Megalodon di Desa Gunungsungging, Sukabumi (1/2).
Tak ingin fosil-fosil megalodon punah diburu untuk mengejar rupiah, warga Desa Gunungsungging, Sukabumi, mendirikan tetenger berupa Museum Megalodon yang ternyata juga mendatangkan manfaat tak kalah besar.
EDI SUSILO, Sukabumi
---
’’HUNTU (gigi) gelap,’’ ucap Epul, spontan menyebut deretan fosil gigi yang tersimpan di kotak kaca itu.
Rafa, temannya satu kelas, menimpali. ’’Itu megalodon.’’
Dua bocah taman kanak-kanak itu masuk ke Museum Megalodon di Desa Gunungsungging, Sukabumi, Jawa Barat, saat jam istirahat pada Kamis (1/2) lalu. Sekolah mereka berada tepat di samping museum di desa yang masuk wilayah Kecamatan Surade itu.
’’Kalau ini tulang paus,’’ ucap Nuril Anwar, penjaga museum, sambil menunjuk belulang sepanjang 20 sentimeter yang terpajang di sudut pojok.
Namanya bocah, tak puas dengan jawaban Nuril. ’’Batu gitu,’’ celetuk Rafa, disambut tawa teman-temannya. ’’Iya di dalam batu ini,’’ sahut Nuril. ’’Nah, ini yang panjang tulang paus,’’ lanjutnya, disambut manggut-manggut tanda mengerti oleh para buyung dan upik.
Sebagian besar koleksi museum itu memang gigi hiu purba Carcharocles megalodon atau hiu purba, binatang yang sudah punah dan diperkirakan hidup 23–2,3 juta tahun lalu. Ukurannya beragam. Mulai dari sebesar telapak tangan berukuran 15 sentimeter sampai terkecil seukuran kelingking.
’’Masih banyak koleksi museum yang kami simpan di sini,’’ ucap Nuril sambil membuka pintu gudang. Di dalamnya berjajar di antara rak tanpa tutup kaca. Semua fosil asli. ’’Pegang saja, nggak apa-apa,’’ kata Nuril, mempersilakan Jawa Pos.
Museum itu berada di desa di kaki perbukitan Surade yang kaya fosil megalodon. Jutaan tahun silam, apa yang sekarang menjadi perbukitan itu merupakan bagian dari laut. Setidaknya dalam lima tahun terakhir, fosil gigi si hiu purba menjadi perburuan untuk ditukar dengan rupiah.
Berukuran 12 x 6 meter, Museum Megalodon meminjam bangunan desa yang sebelumnya digunakan untuk rumah sehat. Nuril bersama Eli, Mansyur, dan beberapa warga lain yang peduli akan kelestarian fosil di bawah tanah desa mereka mendirikan museum itu pada Februari 2021.
Fosil gigi hiu purba.
Pendirian museum tercetus lantaran mereka cemas melihat eksplorasi besar-besaran untuk menggali fosil. ’’Kami nggak mau anak cucu nanti hanya mendengar cerita. Tanpa tahu secara langsung fosil megalodon,’’ ucap Nuril.
Semula, sebelum mengetahui fosil gigi megalodon bernilai tinggi, banyak warga desa justru menjauh ketika tak sengaja menemukan. Keyakinan setempat, menemukan gigi megalodon berarti akan menjumpai kesialan. Karena itu, orang-orang tua di kampung menyebut gigi megalodon sebagai huntu gelap atau gigi petir. Yang menemukan bisa disambar petir.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
