
PAKAI MESIN: Pekerja membuat paving di proyek padat karya. Paving tersebut nanti dibeli Pemkot Surabaya untuk memperbaiki jalan permukiman. (Galih Adi Prasetyo/Jawa Pos)
Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang menganggur dijaring untuk diberi pekerjaan oleh Pemkot Surabaya. Salah satunya adalah produksi paving untuk kebutuhan jalan. Kini mereka pun sudah menikmati hasilnya. Dari yang sebelumnya harap-harap cemas menanti penghasilan, kini mereka sudah punya pendapatan tetap per bulan.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
MESIN pres paving di lokasi pabrik Kecamatan Tambaksari itu tak pernah berhenti. Mulai pukul 08.00 hingga 17.00, mesin terus bekerja. Pekerjanya tampak semangat meski sesekali kening mereka bercampur pasir saat tangan kasar itu membasuh keringat. ’’Wis pokoke digawe semangat. Diniati golek rezeki untuk anak istri di rumah,’’ ujar Syaiful Anas, salah seorang pekerja pembuatan paving.
Hampir lima bulan ini Syaiful menekuni pekerjaan baru sebagai pembuat paving. Dia sudah buntu mau bekerja apa lagi untuk membuat dapur tetap ngebul. Saat pandemi Covid-19, dia terkena PHK. Pesangon yang tidak seberapa digunakan untuk membuka warung kopi.
’’Namun, nggak lama sudah tutup. Akhirnya daftar ke ojek online. Nah, waktu itu saya masuk MBR karena penghasilan pas-pasan, terus ditawari kerja. Alhamdulillah, sekarang sudah ada pendapatan yang cukup,’’ kata pria 38 tahun itu.
Kini per bulan rata-rata dia bisa mengantongi penghasilan Rp 6 juta. Namun, tidak ujug-ujug besar. Proses menuju ke sana pun berat.
’’Kami dilatih dua bulan untuk menghasilkan paving yang bagus. Benar-benar paving sesuai standar,’’ ujarnya.
Hal yang sama diungkapkan Dimas Herlambang. Tidak pernah terbayangkan dia ikut program padat karya pembuatan paving itu. Apalagi dengan penghasilan yang lebih daripada pekerjaan dia sebelumnya.
’’Kalau dua minggu kerja, bisa dapat Rp 1,5–3,5 juta. Bergantung malas-malasan atau tidak. Kalau sregep, ya gajinya tambah banyak,’’ tuturnya.
Pasar utama produksi paving mereka adalah dinas sumber daya air dan bina marga (DSDABM). Paving-paving itu digunakan untuk program perbaikan jalan di perkampungan. Karena berurusan dengan anggaran negara, kualitasnya harus bagus. DSDABM pun menggandeng ITS untuk melakukan quality control itu.
’’Hasilnya memang di luar dugaan. Awalnya kami pasang target kualitas paving adalah K175. Namun, setelah dites, ternyata K300. Artinya, dilindas kendaraan besar pun masih kuat,’’ ujar Kabid Jalan dan Jembatan DSDABM Adi Gunita.
Dia mengatakan, ke depan bisa jadi paving yang mereka produksi dipasarkan ke masyarakat umum. Sebab, standarnya juga sudah memenuhi ekspektasi pasar. Tidak ada yang perlu diragukan lagi.
’’Kami akan bantu sampai ke sana. Harapannya, ke depan jumlah kelompok padat karya paving ini juga bertambah terus,’’ paparnya.

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
Tempat Kuliner Bakmi Jawa Terenak di Jogja: Dimasak Pakai Arang, Rasanya Semakin Nendang
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Prediksi Skor Bayern Munich vs Real Madrid! Dua Raksasa Berjibaku Demi Tiket Semifinal Liga Champions, Siapa Bakal Melaju?
