Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 September 2023 | 21.06 WIB

Liku-Liku Proses BKSDA Jatim sebelum Pelepasliaran Satwa, Sebagian Disekolahkan Dulu, Tak Lulus Harus Remedi

Tim BKSDA Jatim saat proses pelepasliaran monyet ekor panjang di Nusa Barong. - Image

Tim BKSDA Jatim saat proses pelepasliaran monyet ekor panjang di Nusa Barong.

Sebelum sampai ke tahap pelepasliaran, BKSDA Jatim harus melakukan identifikasi, observasi, survei, hingga tes DNA untuk jenis primata. Hewan bekas peliharaan termasuk yang paling sulit beradaptasi saat dikembalikan ke habitat.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

---

BERJALAN 2–3 kilometer sambil membawa puluhan satwa, sering. Terjebak di kubangan, tak satu–dua kali. Digigit hewan yang akan dilepasliarkan, pernah.

Pada setiap proses pelepasliaran satwa seperti yang rutin dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur (Jatim), ada liku-liku panjang yang mesti dilalui. Maret lalu, misalnya, saat 48 lutung jawa hendak dikembalikan ke habitat di Pulau Nusa Barong yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Jember.

”Lumpur setinggi lutut tersebut menjebak kaki tim di lapangan. Apalagi waktu itu masih musim hujan,” kenang Kepala BKSDA Jatim Nur Patria Kurniawan kepada Jawa Pos Kamis (14/9) pekan lalu di Surabaya.

Survei lokasi juga harus dilakukan terlebih dahulu. Mulai jenis habitat, jumlah populasi, ketersediaan pangan, hingga keberadaan ancaman. Jangan sampai penambahan satwa justru menambah konflik antarmereka di dalam hutan.

BKSDA Jatim biasanya menggandeng JSI (Jaringan Satwa Indonesia) dan JLC (Javan Langur Center). ”Dua lembaga itu tempat sekolahnya primata sebelum dilepaskan ke habitatnya. Terutama bagi yang perilaku liarnya sudah hilang,” ujarnya.

Prosedur ketat memang diterapkan BKSDA Jatim sebelum sampai ke tahap pelepasliaran. Mulai identifikasi, pemeriksaan, observasi, hingga tes DNA untuk jenis primata seperti orang utan. ”Kami harus memastikan asal primata itu dari mana, apalagi jika didapat dari razia penyelundupan,” kata Nur Patria.

Kalau sifat liar satwa hilang, harus disekolahkan dulu ke sekolah yang diorganisasi JCI dan JLC tadi. Di sana satwa dilatih untuk beradaptasi menghindari musuh, mencari makanan, hingga bertahan di alam liar.

Tapi, sebagaimana juga manusia, sekolah bukan jaminan keberhasilan. Misalnya saat monyet ekor panjang yang dilepaskan di Cagar Alam Pulau Sempu, Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu. Sehari setelah dikembalikan, ada nelayan melapor seekor monyet ikut di perahu.

Saat diobservasi, primata itu dulunya dipelihara sehingga tidak takut dengan kehadiran orang. ”Akhirnya saya telepon JLC, ini ada monyet yang tidak lulus, harus remedi, hahaha,” ungkap Nur Patria.

Hasil sekolah para primata selalu dilaporkan ke BKSDA Jatim. Begitu pun sebaliknya ketika ada primata yang dinilai belum lulus. BKSDA Jatim juga melakukan sosialisasi ke warga sekitar. Mereka diminta melapor jika ada hewan yang keluar hutan.

Sebetulnya pemantauan juga dilakukan tim di lapangan. Untuk lutung, contohnya, butuh pengawasan tiga hari hingga seminggu. ”Satwa juga butuh adaptasi di habitatnya,” ucap dia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore