
MENYEMBANGKAN KARYA: Founder Kawal Sidang Abdullah Aufa di Jakarta (21/7). Sayuti diambil dari nama tokoh pengetik naskah proklamasi Sayuti Melik.
Untuk Kawal Sidang, Sayuti Sudah Asup Ribuan Dokumen Hukum
Sayuti kini menjadi tulang punggung pembuatan risalah sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) serta rangkuman rapat di Bawaslu dan sekarang dikembangkan menjadi websiteKawal Sidang. Sayuti dibekali kosakata dari kamus bahasa Indonesia paling lengkap, serapan bahasa daerah, termasuk istilah baru.
M. HILMI SETIAWAN, JAKARTA
---
ABDULLAH Aufa Fuad sama sekali tidak menyangka posting-an reels di akun Instagram-nya bakal membuka jalan untuk Sayuti. Sebuah sistem kecerdasan buatan yang dia buat.
Ceritanya, saat itu ada seniornya di Universitas Airlangga (Unair) yang tertarik dengan Sayuti. Aufa lantas menjelaskan keunggulan sistem kecerdasan buatan yang dia kembangkan sejak 2018 itu. ”Termasuk juga pada 2019 digunakan untuk menganalisis debat capres. Saat itu kerja sama dengan Jawa Pos,” kata pria kelahiran Sidoarjo, 32 tahun lalu, itu saat ditemui di Jakarta pada Jumat (21/7) dua pekan lalu.
Selanjutnya, seniornya tersebut menawarkan supaya Sayuti digunakan untuk membantu pembuatan risalah persidangan di MK. Keduanya pun sepakat. Jadilah akhirnya pemanfaatan Sayuti semakin dikenal. Sampai akhirnya digunakan juga untuk pembuatan risalah atau rangkuman rapat di Bawaslu.
Sayuti dia rintis sejak 2018, dengan nama Speaktograph Digital Indonesia. Pada saat itu mantan staf kajian strategis di Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia PWNU Jawa Timur tersebut mengembangkan kecerdasan buatan untuk voice recognition. Fungsinya menganalisis suara sehingga bisa ditampilkan jadi teks.
Kecerdasan buatan itu juga untuk emotion recognition. Dengan kemampuan pengenalan ekspresi wajah serta analisis mimik seseorang, Speaktograph buatan mantan wakil ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Lyon, Prancis, tersebut bisa digunakan untuk menganalisis seseorang itu sedang marah, pesimistis, sedih, bahagia, dan ekspresi lainnya.
Aufa tidak berhenti pada Speaktograph itu saja. Dia lantas mengembangkan kecerdasan buatan karyanya tersebut untuk berbagai jenis kegunaan lainnya. ”Supaya tidak hanya digunakan untuk debat presiden. Tetapi bisa diterima market lebih luas,” jelas pria yang berkuliah S-2 di bidang nanoteknologi di Universite de Lyon tersebut.
Pengembangan sistem kecerdasan buatan itu akhirnya keluar dengan nama Sayuti. Nama tersebut bukan singkatan atau akronim. Melainkan terinspirasi dari sosok Sayuti Melik, sosok pengetik naskah proklamasi Indonesia.
Secara sederhana, Sayuti memiliki kemampuan seperti Google Text: mengubah suara menjadi sebuah teks. ”Tetapi, bisa diadu antara Sayuti dan Google Text. Sayuti lebih banyak keunggulannya,” ungkap dia.
Keunggulan yang menurut dia sangat penting adalah kekayaan kosakata. Sayuti sudah dibekali dengan kosakata dari kamus bahasa Indonesia paling lengkap. Bahkan ditambah juga kosakata dari serapan bahasa daerah. Lalu dimasukkan juga istilah-istilah baru, bahasa slang, juga kamus rima. ”Mungkin Google Text tidak ada bahasa baru atau bahasa rima,” katanya.
Aufa mencontohkan kata-kata yang bisa membuat Google Text salah ketik. Di antaranya adalah kata abad. Bisa jadi Google Text akan mengeluarkan kata abjad, bukan abad. Aufa mengatakan, sistem kecerdasan buatan Sayuti bahkan bisa di-setting sejak awal sehingga kata-kata yang akan muncul bisa disesuaikan.
Dengan kemampuan dan keunggulan tersebut, Sayuti akhirnya secara resmi digunakan untuk penyusunan risalah persidangan di MK, tepatnya sejak 2022. ”Jadi, dulu setiap sidang membutuhkan 20 orang untuk membuat risalah yang cepat di MK. Mereka bekerja seperti juru ketik atau transkrip seluruh percakapan dalam persidangan,” katanya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
