
DIBUKA UNTUK UMUM: Pengunjung melihat ikan aligator di area akuarium Surabaya Night Zoo tadi malam (25/6).
Surabaya Night Zoo menjadi taman satwa ketiga di tanah air dan yang pertama di Jawa Timur yang bisa jadi opsi berwisata pada malam hari. Konsepnya dibuat tematik dan berganti-ganti.
GALIH ADI P.-WAHYU Z. BUSTOMI, Surabaya
---
BARU saja joran yang di ujung talinya tergantung paha ayam itu dijulurkan, dengan cepat penghuni kolam bereaksi. Disambar dengan cepat moncong bergerigi buaya senyulong.
Teriakan pengunjung semakin lantang ketika buaya lain merangsek menuju tempat umpan.
”Seram juga kalau menyambar,” ujar Windi, salah seorang pengunjung Surabaya Night Zoo (SNZ), kepada Jawa Pos tadi malam (25/6).
SNZ resmi dibuka tadi malam dan menjadi taman satwa ketiga di tanah air yang bisa jadi pilihan berwisata pada malam hari. Taman Safari Bogor dan Bali Safari yang lebih dulu memulai. Konsepnya sama: menunjukkan jenis satwa yang melek saat malam. SNZ dibuka setiap Sabtu dan Minggu pukul 18.00–22.00.
Hanya karena SNZ buka malam, para hewan yang menghuni tempat konservasi tersebut tak lantas diajak banting tulang siang malam. Semua yang ”bertugas” adalah satwa nokturnal alias binatang yang memang aktif dan lincah saat malam.
Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya (KBS) menetapkan harga tiket Rp 100 ribu. Dengan tarif sedemikian, para pengunjung sudah bisa berkeliling serta lebih dekat dengan 20 jenis satwa di sana.
Saat masuk, pengunjung dibagi per kelompok. Satu kelompok terdiri atas 25 orang dengan didampingi dua pemandu. Mereka memakai bahasa Inggris dan Indonesia.
Saat pengunjung kali pertama masuk, burung hantu menjadi satwa penyambut. Ada 12 burung malam ini yang ditempatkan di sela taman. Tapi, awas jangan sembarangan jepret, apalagi memakai flash. Bakal kena semprit petugas.
Berikutnya, zona yang ditawarkan adalah kompleks akuarium dan reptil. Tampak berbagai jenis ular seperti kobra dan piton serta iguana hingga biawak. Mereka santai berjalan-jalan di kandang masing-masing.
Ada beberapa atraksi yang ditawarkan. Selain ke buaya, ada pula sesi memberi makan makan arapaima. Predator sepanjang 1,5 meter asal kawasan Amazon di Amerika Selatan itu begitu lahap menyantap saat pawang melempar kepala ayam ke arah kolam. Sambaran yang membuat air beriak hingga mengenai sebagian pengunjung.
Bukan hanya itu, berbagai mural tentang hewan juga bisa menjadi spot foto. Lukisan itu dibuat dengan cat fosfor. Berpendar ketika terkena cahaya ultraviolet. Konsep cat fosfor itu menghiasi hampir seluruh area KBS. Mulai lorong bangunan, tembok pagar, hingga pembatas antara hewan nokturnal dan non-nokturnal. Lukisan-lukisan itu dibuat dengan memberdayakan komunitas mural di Surabaya.
Tantangan membuat Surabaya Night Zoo (SNZ) tidak gampang. Luas KBS hanya sekitar 5 hektare, sedangkan luasan SNZ hanya 5–7 persen dari luas kebun binatang yang berusia 103 tahun tersebut.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
