
Sutradara Joko Anwar (Imam Husein/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pada setiap wajah bopeng yang muncul dari gelap, perempuan berpunggung bolong yang memesan, ’’Bang , sate, Bang”, atau pintu yang diketuk malam-malam tapi tak ada siapa-siapa ketika dibuka, ada hormon dopamin dan serotonin yang dialirkan tubuh. Yang membuat suasana hati jadi lebih baik sekaligus meningkatkan aktivitas otak.
’’Film horor mengikat penontonnya dengan rasa penasaran. Apa yang terjadi setelah ini? Siapa yang akan muncul dari gelap di adegan berikutnya? Mampu bertahan tidak si karakter utama di akhir film nanti? Semua itu mengasah otak,” kata Agustina Twinky, psikolog.
Ahmad Ferdinand, seorang penggemar film horor, mengalami benar yang disampaikan Twinky itu. Horor memang memicu rasa takut, ngeri, tapi juga mengajaknya berpikir.
Sebab, lanjut Ahmad, kebanyakan alur cerita film horor dibuat maju-mundur.
’’Mau nggak mau kan jadi mikir. Jadi, sekalian belajar kayak bikin strategi gitu. Apalagi kalau horornya thriller gitu kan,’’ kata pria kelahiran Jakarta, 27 tahun lalu, itu.
Sensasinya bertambah ketika menonton dalam suasana gelap dengan ditambah volume suara yang pas. ’’Jadi semakin menggugah adrenalin dan bikin penasaran,” kata Ahmad yang doyan menonton film horor sejak duduk di bangku SMP.
Cynthia Apriani, penggemar yang lain, tak menampik bahwa sebetulnya ada rasa takut saat menonton film horor. Baik itu ketika nonton sendiri maupun bersama kerabat lain. Bahkan, tak jarang adegan yang ada di dalam film terbawa ke mimpinya.
Kendati demikian, kondisi itu tak membuatnya menjadi pribadi yang parno dan kapok untuk menonton film horor lagi dan lagi. ’’Kalau setannya nongol jelas, ditambah backsound yang bikin kaget. Deg-degan dikit, tapi nggak bikin aku takut sampai ciut,’’ jelas karyawan swasta berusia 24 tahun itu.
Rentang usia penonton film horor luas. Mulai usia remaja sampai dewasa muda. Namun, tidak sedikit juga kalangan usia anak-anak dan orang tua.
’’Sekitar 15 sampai 35 tahun ya biasanya,’’ kata Twinky.
Meski nonton film horor bisa memperbaiki mood dan mengasah otak, psikolog alumnus Universitas Surabaya itu menyarankan anak-anak di bawah usia 15 tahun tetap harus mendapat pengawasan dari orang dewasa.
’’Bila tidak, bisa berakibat buruk,” kata owner ESYA Terapi dan SEBAYA School tersebut.
Photo
PEMERAN UTAMA: Tara Basro, pemeran Maya dalam Perempuan Tanah Jahanam. (IMAM HUSEIN/JAWA POS)
Di antaranya, membuat anak takut hingga berhalusinasi saat dihadapkan pada beberapa situasi. Di antaranya, takut ditinggal sendiri, berada di tempat gelap, rumah sakit, pemakaman, pohon besar, dan segala hal yang berkaitan dengan sesuatu yang ada di film-film horor. Kondisi tersebut jelas membuat siapa pun yang mengalaminya tidak bisa bergerak dengan bebas.
Di situ pentingnya pendampingan oleh orang dewasa. ’’Ubah pola pikirnya, diedukasi bahwa ini hanya buatan. Kalau orang dewasa seharusnya sudah mengerti ya, memandangnya dari sisi hiburan,’’ katanya.
Baca juga:

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Swedia dan Tunisia di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jerman vs Curacao di Piala Dunia 2026: Der Panzer Siap Menggila di Laga Perdana
MUI Minta Pelaku dan Pengkampanye LGBTQ Bisa Dipidana, Lebih Berat dari Pasal Perzinaan
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Skor Haiti vs Skotlandia di Piala Dunia 2026: The Tartan Army Bisa Menang Besar!
