
Film Believe - Takdir, Mimpi, Keberanian. (Istimewa)
JawaPos.com-Pengalaman berakting Ajil Ditto bertambah. Di film terbarunya berjudul Believe - Takdir, Mimpi, Keberanian, dia dipercaya memerankan karakter Agus yang berprofesi sebagai tentara.
Ajil menceritakan bahwa proses syuting tersebut betul-betul menguras fisiknya. “Capek banget sumpah,” ucap Ajil saat konferensi pers di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.
Sebab sebelum syuting dimulai, aktor berusia 23 tahun tersebut harus menjalani serangkaian workshop selama lebih dari satu bulan untuk keperluan pendalaman karakter. Mulai dari latihan fisik, mempelajari bahasa tubuh seorang tentara hingga belajar koreografi untuk adegan action.
“Sekitar 40 hari, wah rasanya kayak mau mati. Untuk persiapan fisik aku juga diet, fighting juga behaviour megang senjata, cara melangkah prajurit,” ujar Ajil Ditto.
Ajil menyatakan, hampir seluruh adegan laga dilakukan sendiri tanpa bantuan pemeran pengganti. Karena itu, ketika syuting dirinya sempat mengalami cedera.
“Itu adegan lagi nyusruk ke semak-semak. Terus kurang pemanasan,” papar Ajil.
Akibatnya, aktor kelahiran Medan itu mengalami cedera di pinggang kanan dan pangkal paha kaki kanan. “Itu sakit banget,” cetus Ajil.
Apalagi, di hari yang sama dengan kejadian tersebut, dia juga harus melakoni adegan fighting. Meski harus bersusah payah, namun Ajil mengaku sangat menikmati semua proses yang dilalui.
Dia emnuturkan, keinginannya untuk belajar sekaligus berkembang lebih besar ketimbang rasa sakit yang dirasakan. Apalagi, ini merupakan pengalaman pertama untuknya.
“Mungkin karena adrenalin, ya. Jadi, nggak ngerasa sakit lagi. Walaupun pas syuting pencot-pencot,” ujar Ajil.
Film Believe-Takdir, Mimpi, Keberanian diadaptasi dari kisah nyata yang tertuang dalam buku biografi berjudul Believe-Faith, Dream, and Courage. Mengisahkan tentang Agus yang tumbuh dalam bayang-bayang sosok sang ayah, Sersan Kepala Dedi (Wafda Saifan), seorang prajurit yang ikut dalam Operasi Seroja 1975.
Meski telah mengorbankan banyak hal, pengabdiannya justru malah berdampak buruk bagi kehidupan pribadinya. Kecemasan dan ketidakpastian membuat Agus harus kehilangan peran ibu yang telah meninggalkannya sejak kecil.
Situasi itu meninggalkan memori buruk perihal kesepian dan amarah yang dialami Agus. Tahun demi tahun berlalu, Agus memasuki fase remaja di era 1984.
Dia menjadi pemuda yang kerap terlibat perkelahian, gampang hilang arah hingga terjebak dalam bayang masa lalu. Sampai akhirnya, kematian sang ayah menyingkap fakta-fakta baru perihal pengorbanannya di medan perang.
Yang membuat Agus mengenal sosok ayahnya dengan cara yang berbeda. Keberanian dan pengorbanan sang ayah yang selama ini tidak dia pahami justru menjadi inspirasi untuknya. Dan, membuat Agus mengambil keputusan besar untuk menjadi seorang prajurit.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
