Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Oktober 2024 | 07.57 WIB

Kisah Easy Peacy, Grup Band Glam Metal dari Ponorogo

Aksi panggung vokal Easy Peacy Amir Al-Muwaasaat (kiri) dan gitaris Alfanda Lendi Kusworo dalam sebuah konser. (Easy Peacy) - Image

Aksi panggung vokal Easy Peacy Amir Al-Muwaasaat (kiri) dan gitaris Alfanda Lendi Kusworo dalam sebuah konser. (Easy Peacy)

JawaPos.com–Genre glam metal belum seberapa populer di Ponorogo, tempat lahirnya grup band Easy Peacy. Sang vokalis Amir Al-Muwaasaat pun mengakui, glam metal itu segmented. Hanya digandrungi usia di atas 30 tahun.

Tapi, itu bukan alasan Amir, Anggi Widianarko (gitaris), dan Alfanda Lendi Kusworo (gitaris), meninggalkan genre heavy metal yang mereka usung sejak 2013 saat masih bernama Lokapala. Nama Easy Peacy baru mereka sandang sejak 2021. Bersamaan masuknya nama-nama baru, antara lain Satria Aditama (bassis), Lukman Rere Risaldi (keyboardist), dan Moris Anung Widiatmojo (drummer).

Semula, Easy Peacy namanya Easy Peasy. Jika diterjemahkan, artinya sepele. Di referensi internet, banyak yang memakai kata peasy. Sementara, kata Peacy saat itu belum banyak yang memakai. 

Konon, keenam personel Easy Peacy saat ini telah melewati beberapa kali proses pergantian. Sebelum Satria, bassist sudah empat kali berganti. Gitaris tiga kali. Demikian pula keyboardist dua kali pergantian.

’’Karena kami merasa nyaman dengan genre glam metal. Kami sepemikiran bahwa ketika kami menampilkan musik, bukan sekadar musik yang kami tampilkan. Demikian pula dengan aksi panggung dan kostumnya,’’ tutur Amir dalam sebuah perbincangan di Madiun.

Glam metal yang populer pada dekade 1970-1980-an tersebut itu memang dikenal dengan kostum panggung. Vokalis dan pemusik biasa mengenakan pakaian, rias wajah dan model rambut serba gemerlap. Selain itu, juga mengenakan sepatu hak tinggi.

’’Kami berpedoman dengan kata-kata kalau kamu manggung tetapi kostummu nyaman untuk ngopi, berarti kostummu salah. Kalau kostummu terlalu lebay, terlalu wah dan terlalu glamor untuk ngopi, berarti kostummu cocok untuk manggung,’’ kata Amir.

Begitu pula dengan bahasa yang dipakai pada liriknya. ’’Lirik kami menggunakan Bahasa Inggris, itu yang membedakan kami,’’ kata Mondy.

Itu tercermin dari judul-judul single dalam album pertamanya bertajuk Rising Sun.

Single Rising Sun jadi single terakhir dalam album tersebut. Selain Rising Sun, juga ada Into the Sun, Supernova, The Whisperers, Scary in the Night, Evelyn, God is Looking for Rock and Roll, Easy Peasy, Slow as Fuxx, dan N.P.T.

Bukan hanya jadi lagu yang selalu dinyanyikan tiap akhir manggung, Rising Sun juga jadi single yang mewarnai perubahan Easy Peacy. Dari genre heavy metal bersama Lokapala, jadi glam metal bersama Easy Peacy.

Saat mereka menulis lagu, Easy Peacy langsung memakai bahasa Inggris. Bukan dari lirik bahasa Indonesia yang diubah jadi bahasa Inggris. Dimasukkan lebih dahulu di musiknya sebisanya. Jika ada penambahan atau pengurangan, baru akan disesuaikan.

Berkiblat ke grup band luar negeri seperti Whitesnake, Skid Row, sampai Mr Big, lirik-lirik Easy Peacy banyak membahas tentang dinamika di Ponorogo. Termasuk kritik sosialnya juga.

Sekalipun basis penggemarnya di Ponorogo, Easy Peacy setahun setelah berganti nama sudah merasakan panggung Jogjarockarta. Mereka terpilih dari 60 grup band dari Jawa-Bali. Single Scary in the Night yang saat itu mengantarkannya ke Jogjarockarta.

Di sisi lain, Raditya Adi Utomo selaku HRD & GA Rive Rock mengakui, komitmen Easy Peacy dengan genre glam metal jadi alasannya meng-handle grup band tersebut. Dia ingin genre glam metal bisa dipopulerkan lewat lagu-lagu Easy Peacy.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore