
Salah satu pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno.
JawaPos.com – 41 tahun hidup sekaligus menghidupi teater pasti tidak mudah. Banyak pengorbanan yang dilakukan Ratna Riantiarno, sosok perempuan tangguh di balik tetap bertahannya Teater Koma hingga kini.
Apalagi, di era ketika teknologi memudahkan hidup seperti saat ini, teater semakin terabaikan. Ingin menyaksikan film dari dalam dan luar negeri, tinggal pergi ke bioskop atau cukup menyaksikannya di gadget.
Ratna mengungkapkan tidak mudah mendatangkan penonton, meskipun di setiap pertunjukan Teater Koma kursi penonton pasti terisi penuh.
"Ada komitmen. Ada perasaan memiliki bersama, disiplin. Itu penting karena kalau tanpa itu kalau bicara mau cari uang kita ke film aja yang industri. Teater kan belum bisa industri," katanya beberapa waktu lalu.
Oleh karena itu, dia selalu menjamin bahwa Teater Koma akan selalu memberikan penampilan yang terbaik kepada penonton setianya. Bahkan, dalam satu tahun harus membuat penampillan dua kali.
Tetapi, siapa yang tahu kalau karena kecintaannya pada dunia teater, dia rela meninggalkan jabatan yang bagus di perusahaan asing. Bahkan, membagi waktunya yang hanya 24 jam sehari, untuk keluarga dan teater.
"Pada akhirnya saya memilih buat kesenian aja. Jadi, saya tinggalkan dunia kantor. Kan memang ada yang kita tinggalkan karir. Tapi kita harus bahagia, di sini juga bisa berkarir koq. Bisa pergi ke mana-mana juga dengan modal saya pernah bikin sebuah kelompok teater yang bertahan sekian lama. Padahal nggak lulus sarjana," kata Ratna saat bercerita belum lama ini.
Perjuangan melestarikan sesuatu yang sudah ada diakuinya tidak mudah. Sempat ditentang pada era orde baru (orba), Teater Koma bertahan di tengah banyak saran untuk berhenti.
"Waktu itu mas Nano (Nano Riantiarno) bilang mau istirahat selama 2 tahun dari ini. Ngapain? Berarti anda kalah sama mereka. Jadi, saya pikir memang bener, kita nggak boleh kalah. Kalau kita sudah memilih hidup kita di sini, ya sedapat mungkin kita harus bertahan," ungkapnya.
Ditanya ketabahan dan kekuatannya bertahan selama 41 tahun, Ratna mengatakan bahwa keteguhan hati dan pengorbanan adalah kuncinya. Termasuk, rela tidak menjadi kaya dibandingkan bermain di layar lebar ataupun layar kaca.
"Kalau nggak dari diri kita sendiri yang memotivasi diri kita, nggak akan mungkin," ujarnya.
Selain itu, Ratna mengaku selalu belajar untuk menjadi lebih baik. Sebab, hidup adalah pelajaran, maka dia akan terus belajar dan berbagi ilmu yang telah didapatnya selama 41 tahun bersama Teater Koma.
"Sehebat apapun wanita tetep wanita. Tapi wanita itu tetap harus di atas laki-laki karena dia yang melahirkan manusia," pesannya kepada seluruh perempuan di tanah air di Hari Kartini.
Harapannya kini adalah Teater Koma tetap menjadi koma atau tetap bertahan karena tanda baca itu mengartikan satu kalimat belum berakhir.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
