Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Djati Waluyo
Rabu, 21 Oktober 2026 | 18.24 WIB

Proyek Energi Prabowo-Gibran: B50 hingga PLTS 100 GW, CORE Soroti Beban Subsidi dan Pasokan

Presiden Prabowo Subianto bersama dengan sejumlah Menteri dalam peluncuran program PLTS 100 GW, di Bali, Selasa (25/8) - Image

Presiden Prabowo Subianto bersama dengan sejumlah Menteri dalam peluncuran program PLTS 100 GW, di Bali, Selasa (25/8)

JawaPos.com - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjalankan sejumlah proyek strategis untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. 

Program tersebut mencakup mandatori biodiesel B50, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp), hingga pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan di berbagai daerah.

Pada Januari 2025, pemerintah meresmikan 37 proyek strategis ketenagalistrikan dengan kapasitas sekitar 3,2 gigawatt (GW) yang tersebar di 18 provinsi. 

Adapun, proyek tersebut mencakup pembangkit listrik tenaga air (PLTA), panas bumi, gas, batu bara, biomassa, tenaga surya, serta pembangunan jaringan transmisi dan gardu induk.

Pemerintah kemudian mendorong pengembangan PLTS 100 GWp yang diluncurkan pada Agustus 2026. Pada tahap awal, terdapat 14 proyek PLTS dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp yang tersebar di enam provinsi. Program tersebut ditargetkan mencapai kapasitas 100 GWp dalam tiga tahun.

Selain itu, pemerintah meluncurkan mandatori biodiesel B50 pada Juli 2026. Kebijakan tersebut mengatur pencampuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Namun, di tengah berbagai program tersebut, pemerintah masih menghadapi tantangan berupa kenaikan harga minyak dunia, beban subsidi energi, kesiapan bahan baku biodiesel, serta persoalan pasokan dan distribusi BBM di sejumlah daerah.

Tantangan Swasembada Energi

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai, upaya memperkuat kemandirian energi perlu diimbangi dengan kesiapan implementasi proyek dan kemampuan fiskal pemerintah.

Menurut dia, program B50 berpotensi menghemat devisa negara karena mengurangi kebutuhan impor solar. Kebijakan tersebut juga berpeluang menekan beban fiskal. Namun, peningkatan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 membutuhkan tambahan pasokan bahan baku yang tidak sedikit.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore