Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Oktober 2026 | 04.34 WIB

Peluang PLTN Bertransisi ke Zero Emission: Menjamin Keamanan Pasokan Listrik dan Kesejahteraan Lokal

ILUSTRASI: PLTN Mihama milik Kansai Electric Power Co. di Mihama, Prefektur Fukui, Jepang, dalam foto yang diambil pada November 2025. (Kyodo) - Image

ILUSTRASI: PLTN Mihama milik Kansai Electric Power Co. di Mihama, Prefektur Fukui, Jepang, dalam foto yang diambil pada November 2025. (Kyodo)

JawaPos.com – Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) mulai menjadi salah satu opsi strategis dalam pembahasan masa depan energi Indonesia. Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik, tuntutan pengurangan emisi karbon, serta upaya memperkuat kemandirian energi nasional, teknologi nuklir menawarkan peluang untuk membangun sistem kelistrikan yang lebih andal dan rendah emisi.

Namun, rencana pengembangan PLTN tidak semata-mata berkaitan dengan pemilihan teknologi pembangkit. Keputusan tersebut juga menyangkut kesiapan infrastruktur, jaminan keselamatan, kepastian investasi, penerimaan masyarakat, serta kemampuan negara mengelola teknologi strategis untuk kepentingan jangka panjang.

Dalam konteks tersebut, perspektif riset dan kebijakan energi menjadi penting untuk menilai bagaimana PLTN dapat berkontribusi terhadap target zero emission tanpa mengabaikan aspek keamanan pasokan listrik dan kedaulatan energi Indonesia.

Dr. Topan Setiadipura, peneliti nuklir di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan jika energi menuntut perubahan mendasar dalam sistem penyediaan listrik. Indonesia perlu meningkatkan pemanfaatan energi rendah karbon, mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil, serta memastikan kebutuhan listrik masyarakat dan industri tetap terpenuhi.

Diskusi Economic Frontline di Jakarta. (Istimewa)

Energi surya, angin, air, panas bumi, dan nuklir memiliki karakteristik yang berbeda dalam sistem kelistrikan. Sebagian sumber energi terbarukan bergantung pada kondisi alam dan waktu, sehingga integrasinya memerlukan dukungan jaringan listrik, penyimpanan energi, interkoneksi, dan pengelolaan sistem yang memadai.

"PLTN memiliki karakteristik berbeda karena dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara berkelanjutan, dengan emisi gas rumah kaca yang rendah selama siklus hidup pembangkit dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil" ungka topan dalam diskusi Economic Frontline di Jakarta.

Karakteristik tersebut menjadikan nuklir salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan untuk menyediakan listrik rendah karbon secara stabil, terutama ketika kebutuhan listrik meningkat akibat pertumbuhan industri, elektrifikasi transportasi, dan perkembangan ekonomi digital.

Meski demikian, nuklir bukan satu-satunya jawaban bagi transisi energi. Kontribusinya perlu dinilai berdasarkan kebutuhan sistem kelistrikan Indonesia, kesiapan teknologi, biaya pembangunan, waktu penyelesaian proyek, serta kemampuan mengelola risiko keselamatan dan limbah radioaktif.

Pengembangan PLTN juga perlu disertai investasi pada pendidikan, penelitian, dan peningkatan kompetensi tenaga ahli Indonesia. Dengan demikian, pemanfaatan nuklir tidak hanya berhenti pada pembangunan fasilitas pembangkit, tetapi turut mendorong terbentuknya ekosistem ilmu pengetahuan dan industri berteknologi tinggi.

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore