
PLTP Gunung Ungaran, Jawa Tengah (Dok. Kementerian ESDM).
JawaPos.com – Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal dinilai bagus untuk masa depan. PLTP berpotensi mendukung pengurangan emisi sektor ketenagalistrikan sekaligus memperkuat pemanfaatan energi rendah karbon.
Hal itu disampaikan Guru Besar Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) Agus Setyawan.“Secara umum rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti CO2, SOx, NOx, dan partikulat yang sangat rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil,” kata Agus dalam keterangannya, Kamis (17/9).
Agus menjelaskan panas bumi memanfaatkan panas dari dalam bumi untuk menghasilkan listrik. Karakteristik sumber panas dan teknologi yang digunakan menjadi faktor penting dalam menentukan kinerja pembangkit dan tingkat emisinya katanya. Panas bumi, lanjut Agus, memiliki peluang untuk mendukung penggunaan energi yang lebih rendah karbon.
“Sumber energi ini juga dapat membantu memperkuat keragaman sumber listrik sehingga kebutuhan energi tidak hanya bergantung pada satu jenis pembangkit,” katanya.
Agus mengungkapkan fluida panas bumi yang berasal dari reservoir dapat membawa gas alami seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). “Namun, jumlah emisi yang dihasilkan dapat berbeda-beda, tergantung pada karakteristik fluida dan teknologi pembangkit yang digunakan,” katanya.
Untuk itu, lanjutnya, pengelolaan sumber daya menjadi bagian penting dalam pengembangan panas bumi. Salah satunya adalah pengelolaan fluida yang telah digunakan dalam proses pembangkitan. “Fluida yang sudah tidak digunakan akan direinjeksikan kembali ke reservoir sehingga akan mengurangi pembuangan limbah berbahaya yang merusak ekosistem,” jelasnya.
Menurut Agus, pengelolaan reservoir secara berkelanjutan akan menentukan seberapa lama sumber panas bumi dapat dimanfaatkan. Dengan pengelolaan yang baik, panas bumi dapat menjadi sumber listrik yang andal sekaligus membantu menekan emisi.
Hal tersebut, menurut dia, dapat dilihat dari pengalaman pengembangan panas bumi di Kamojang, Jawa Barat. “Jika PLTP bisa dijaga keberlanjutannya (sustainability) dalam jangka panjang seperti di PLTP Kamojang yang sudah berumur 100 tahun, maka keberadaannya tidak akan mengurangi kualitas udara, minim dampak masalah kesehatan akibat polutan dan dapat mengurangi kontribusi terhadap pemanasan global,” ujarnya.
Untuk Gunung Ungaran, Agus menilai hasil eksplorasi dan kajian yang memadai akan menjadi dasar penting untuk menentukan langkah pengembangan berikutnya. Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai karakteristik sumber panas bumi di bawah permukaan serta potensi pemanfaatannya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022