
Ilustrasi Industri Petrokimia. (Zero Carbon Analytics)
JawaPos.com - Institute for Development of Economic and Finance Global Transition Initiative (Indef GTI) menilai peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) untuk perdagangan atau bursa karbon di Indonesia belum cukup untuk mendorong minat pasar domestik.
Direktur Indef GTI, Imaduddin Abdullah, mengatakan, SRUK merupakan fondasi penting bagi pasar karbon, tetapi belum cukup untuk menciptakan pasar yang aktif. Menurutnya, pasar karbon membutuhkan tiga komponen, yakni pasokan kredit karbon yang kredibel, permintaan dari pembeli, dan infrastruktur transaksi.
“SRUK memperkuat integritas dan kepercayaan terhadap unit karbon Indonesia. Namun, sistem yang baik tidak otomatis membuat pasar berkembang selama jumlah pembeli masih terbatas,” ujar Imaddudin dalam keterangan yang diterima, Senin (13/7).
Imaddudin mengatakan, tantangan pasar karbon di Indonesia berada dari sisi permintaan, Dimana Emissions Trading System (ETS) masih terbatas di sebagian subsektor ketenagalistrikan, sementara sektor lain belum diwajibkan memenuhi target emisi atau membeli kredit karbon.
Selain itu, pasar sukarela juga belum berkembang dan integritasnya perlu dijaga agar tidak menjadi celah greenwashing. Akibatnya, pembeli masih sedikit, transaksi belum ramai, dan harga karbon belum cukup menarik untuk mendorong investasi rendah emisi.
Maka dari itu, pemerintah perlu memperkuat sisi permintaan, bukan hanya membangun infrastruktur pasar karbon. Setelah memiliki SRUK, langkah berikutnya adalah memperluas ETS secara bertahap ke sektor-sektor beremisi besar, memperkuat kebijakan harga karbon, memperketat target emisi, serta memanfaatkan peluang perdagangan karbon internasional melalui mekanisme Article 6 Paris Agreement.
“Sejumlah sinyal positif sebenarnya sudah mulai terlihat, salah satunya, Kementerian Perindustrian yang tengah menyusun peta jalan perluasan ETS ke sektor-sektor lain. Momentum ini perlu dijaga agar permintaan karbon domestik semakin kuat dan pasar karbon Indonesia semakin berkembang,” ujarnya.
Lanjutnya, peluncuran SRUK menumbuhkan peluang ekspor yang dapat membuka akses pembiayaan iklim untuk konservasi hutan, restorasi mangrove, energi terbarukan, dan proyek rendah karbon lainnya, tetapi ekspor perlu selektif.
Imaddudin menjelaskan bahwa hal tersebut penting agar manfaat ekonominya tetap dinikmati Indonesia melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan perlindungan ekosistem. Dengan begitu, Indonesia tidak sekadar menjadi pemasok kredit karbon murah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Prediksi Skor Villarreal vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
