
Ilustrasi aktivitas produksi di pabrik. Kenaikan harga gas dinilai bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi biaya produksi dan daya saing industri. (Dall E/AI)
Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengatakan pemerintah perlu melihat persoalan industri secara lebih menyeluruh. Menurutnya, tekanan terhadap dunia usaha saat ini berasal dari berbagai faktor yang saling berkaitan.
”Komponen yang membuat perusahaan berat saat ini bukan hanya energi. Nilai tukar juga salah duanya. Juga potensi pasar yang semakin lemah. Banyak faktor,” ungkap Achmad Nur Hidayat kepada wartawan.
Achmad menjelaskan banyak industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor. Dalam kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang melemah, biaya produksi otomatis ikut meningkat sehingga menambah beban dunia usaha.
Ia menilai kebijakan insentif harga gas sebaiknya diberikan secara selektif. Pemerintah perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing sektor industri, termasuk kondisi pertumbuhan dan kemampuan bertahan perusahaan.
”Saya kira pemerintah harus cermat ya. Dilihat lagi jenis industrinya dan apakah sedang bertumbuh atau tidak. Sebab kalau bicara biaya operasional, kenaikan harga energi memang akan menaikkan biaya operasional. Tapi kan nilai tukar Rupiah juga melemah. Belum konsekuensi biaya logistik naik, biaya kemasan terutama plastik juga naik,” ulasnya.
Menurut Achmad, kenaikan harga energi global pada dasarnya membuat harga energi non-subsidi di Indonesia juga perlu menyesuaikan mekanisme pasar. Namun, pemerintah tetap harus menyiapkan kebijakan pendukung bagi industri yang sedang berada dalam kondisi sulit.
”Sekali lagi pemerintah harus cermat. Kalau kenaikan harga gas masih dalam tahap wajar, memang perlu ada kenaikan harga gas tapi perlu juga ada stimulasi-stimulasi lain untuk perusahaan yang dalam kondisi survival mode,” imbuhnya.
Di sisi lain, Achmad mengingatkan bahwa kebijakan harga juga harus memperhatikan keberlangsungan perusahaan penyedia energi. Menurutnya, keseimbangan antara kepentingan produsen energi dan pengguna harus tetap dijaga.
”Kalau penyedia energi mengalami suffering, neraca keuangan yang nggak kuat, nanti bisa berdampak tidak bisa menyediakan energi lagi. Ini kan juga nggak boleh,” tegasnya.
Ia juga mendorong pelaku industri meningkatkan efisiensi di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing perusahaan.

Prediksi Skor Afrika Selatan vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Penentu Les Rouges Lolos 16 Besar
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
