Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Juni 2026 | 20.18 WIB

Komaidi: Daya Saing Industri Tak Hanya Ditentukan Harga Gas, Bahan Baku hingga Kurs Lebih Dominan

Ilustrasi aktivitas produksi di pabrik. Kenaikan harga gas dinilai bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi biaya produksi dan daya saing industri. (Dall E/AI) - Image

Ilustrasi aktivitas produksi di pabrik. Kenaikan harga gas dinilai bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi biaya produksi dan daya saing industri. (Dall E/AI)

Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengatakan pemerintah perlu melihat persoalan industri secara lebih menyeluruh. Menurutnya, tekanan terhadap dunia usaha saat ini berasal dari berbagai faktor yang saling berkaitan.

”Komponen yang membuat perusahaan berat saat ini bukan hanya energi. Nilai tukar juga salah duanya. Juga potensi pasar yang semakin lemah. Banyak faktor,” ungkap Achmad Nur Hidayat kepada wartawan.

Achmad menjelaskan banyak industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor. Dalam kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang melemah, biaya produksi otomatis ikut meningkat sehingga menambah beban dunia usaha.

Ia menilai kebijakan insentif harga gas sebaiknya diberikan secara selektif. Pemerintah perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing sektor industri, termasuk kondisi pertumbuhan dan kemampuan bertahan perusahaan.

”Saya kira pemerintah harus cermat ya. Dilihat lagi jenis industrinya dan apakah sedang bertumbuh atau tidak. Sebab kalau bicara biaya operasional, kenaikan harga energi memang akan menaikkan biaya operasional. Tapi kan nilai tukar Rupiah juga melemah. Belum konsekuensi biaya logistik naik, biaya kemasan terutama plastik juga naik,” ulasnya.

Menurut Achmad, kenaikan harga energi global pada dasarnya membuat harga energi non-subsidi di Indonesia juga perlu menyesuaikan mekanisme pasar. Namun, pemerintah tetap harus menyiapkan kebijakan pendukung bagi industri yang sedang berada dalam kondisi sulit.

”Sekali lagi pemerintah harus cermat. Kalau kenaikan harga gas masih dalam tahap wajar, memang perlu ada kenaikan harga gas tapi perlu juga ada stimulasi-stimulasi lain untuk perusahaan yang dalam kondisi survival mode,” imbuhnya.

Di sisi lain, Achmad mengingatkan bahwa kebijakan harga juga harus memperhatikan keberlangsungan perusahaan penyedia energi. Menurutnya, keseimbangan antara kepentingan produsen energi dan pengguna harus tetap dijaga.

”Kalau penyedia energi mengalami suffering, neraca keuangan yang nggak kuat, nanti bisa berdampak tidak bisa menyediakan energi lagi. Ini kan juga nggak boleh,” tegasnya.

Ia juga mendorong pelaku industri meningkatkan efisiensi di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing perusahaan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore