Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 Juni 2026 | 05.30 WIB

Harga Pertamax Naik, Pertamina Masih Tanggung Beban Rp 3.570 per Liter

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, dalam diskusi virtual, Minggu (14/6). (Zoom INDEF) - Image

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, dalam diskusi virtual, Minggu (14/6). (Zoom INDEF)

JawaPos.com - Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax sebesar 32 persen dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 masih belum menutup harga keekonomian produk tersebut.

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, mengatakan harga jual Pertamax jika dibandingkan dengan harga keekonomian masih terdapat selisih sebesar 32,1 persen.

“Pertamina masih menanggung selisih antara harga keekonomian Rp20.000 dengan harga jual yaitu Rp16.250 yaitu ada selisih 18,8% atau selisihnya Rp3.570 per liter,” ujar Abra dalam diskusi virtual, Minggu (14/6).

Meski begitu, ia mengatakan masih terdapat pertanyaan terkait penetapan harga BBM non-subsidi oleh badan usaha, termasuk apakah harga seharusnya mengikuti harga keekonomian secara penuh atau mempertimbangkan aspek lain.

Abra mengatakan, penyesuaian harga BBM non-subsidi seperti Pertamax disebut berkaitan dengan mekanisme pasar dan struktur biaya produksi, termasuk pengaruh harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta biaya distribusi.

Lanjutnya, ia menjelaskan bahwa BBM non-subsidi memiliki karakter berbeda dengan BBM subsidi seperti solar dan Pertalite yang berkaitan langsung dengan kebijakan fiskal dan kompensasi pemerintah.

Dari sisi dampak ekonomi, kenaikan harga Pertamax disebut memiliki pengaruh terbatas terhadap inflasi nasional. Hal ini karena kontribusi utama tekanan inflasi dinilai lebih banyak berasal dari komoditas BBM bersubsidi seperti solar dan Pertalite.

“Pertamax ini berbeda dengan BBM yang digunakan untuk sektor industri dan bisnis yaitu solar subsidi dan Pertalite yang digunakan oleh mayoritas masyarakat. Dampaknya terhadap inflasi ya potensi untuk mendorong inflasi karena kenaikan harga Pertamax atau BBM non-subsidi ini memang kecil,” ucapnya.

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga memastikan ketersediaan BBM subsidi jenis Pertalite tetap mencukupi di seluruh Indonesia.

Didukung sistem distribusi dan pemantauan stok secara real-time, Pertamina menjamin pasokan Pertalite di SPBU berjalan lancar meski kebutuhan masyarakat terus meningkat di berbagai daerah.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan distribusi Pertalite di seluruh jaringan SPBU terus berjalan normal sesuai penugasan pemerintah dengan dukungan sistem logistik dan infrastruktur yang terintegrasi untuk menjaga pasokan di seluruh wilayah Indonesia.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore