
Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, dalam diskusi virtual, Minggu (14/6). (Zoom INDEF)
Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, mengatakan harga jual Pertamax jika dibandingkan dengan harga keekonomian masih terdapat selisih sebesar 32,1 persen.
“Pertamina masih menanggung selisih antara harga keekonomian Rp20.000 dengan harga jual yaitu Rp16.250 yaitu ada selisih 18,8% atau selisihnya Rp3.570 per liter,” ujar Abra dalam diskusi virtual, Minggu (14/6).
Baca Juga: Pegadaian Borong Lima Penghargaan Bergengsi HR Asia 2026, Bukti Komitmen Bangun SDM Unggul
Meski begitu, ia mengatakan masih terdapat pertanyaan terkait penetapan harga BBM non-subsidi oleh badan usaha, termasuk apakah harga seharusnya mengikuti harga keekonomian secara penuh atau mempertimbangkan aspek lain.
Abra mengatakan, penyesuaian harga BBM non-subsidi seperti Pertamax disebut berkaitan dengan mekanisme pasar dan struktur biaya produksi, termasuk pengaruh harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta biaya distribusi.
Lanjutnya, ia menjelaskan bahwa BBM non-subsidi memiliki karakter berbeda dengan BBM subsidi seperti solar dan Pertalite yang berkaitan langsung dengan kebijakan fiskal dan kompensasi pemerintah.
Baca Juga:Segini Total Harta Kekayaan Wabup Indramayu Syaefudin yang jadi Tersangka Tunjangan Rumah DPRD
Dari sisi dampak ekonomi, kenaikan harga Pertamax disebut memiliki pengaruh terbatas terhadap inflasi nasional. Hal ini karena kontribusi utama tekanan inflasi dinilai lebih banyak berasal dari komoditas BBM bersubsidi seperti solar dan Pertalite.
“Pertamax ini berbeda dengan BBM yang digunakan untuk sektor industri dan bisnis yaitu solar subsidi dan Pertalite yang digunakan oleh mayoritas masyarakat. Dampaknya terhadap inflasi ya potensi untuk mendorong inflasi karena kenaikan harga Pertamax atau BBM non-subsidi ini memang kecil,” ucapnya.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga memastikan ketersediaan BBM subsidi jenis Pertalite tetap mencukupi di seluruh Indonesia.
Didukung sistem distribusi dan pemantauan stok secara real-time, Pertamina menjamin pasokan Pertalite di SPBU berjalan lancar meski kebutuhan masyarakat terus meningkat di berbagai daerah.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan distribusi Pertalite di seluruh jaringan SPBU terus berjalan normal sesuai penugasan pemerintah dengan dukungan sistem logistik dan infrastruktur yang terintegrasi untuk menjaga pasokan di seluruh wilayah Indonesia.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
