
Kilang PT Arsynergy Resources di Gresik. (Istimewa)
JawaPos.com – Ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG masih sangat tinggi. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan porsi impor LPG mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan nasional pada 2025 dan meningkat menjadi sekitar 83,97 persen hingga Februari 2026.
Di tengah tingginya ketergantungan tersebut, keberadaan fasilitas pengolahan LPG dalam negeri menjadi semakin strategis. Salah satunya adalah kilang milik PT Arsynergy Resources di Gresik, Jawa Timur, yang mengolah gas bumi menjadi LPG, kondensat, dan lean gas untuk membantu memenuhi kebutuhan energi nasional.
Peran strategis itu membuat Kilang LPG Arsynergy ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 2004 dan Keputusan Menteri ESDM Nomor 385.K/BN.05/MEM.S/2025 tentang Objek Vital Nasional Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.
Status tersebut menegaskan bahwa operasional fasilitas tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat luas dan ketahanan energi nasional. Gangguan terhadap operasional kilang tidak hanya berdampak pada aktivitas perusahaan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesinambungan pasokan LPG domestik.
“Kehadiran kami adalah bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional dan mengurangi impor LPG dalam pemenuhan kebutuhan dalam negeri,” ujar Managing Director PT Arsynergy Resources Achmad Harijanto.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi LPG Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 25 ribu metrik ton per hari atau setara 9,1 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 7,3 juta ton masih dipenuhi melalui impor.
Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar dengan kontribusi sekitar 70 persen dari total impor LPG Indonesia. Selebihnya berasal dari sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Australia, dan Malaysia.
Tingginya ketergantungan terhadap impor menunjukkan bahwa sektor produksi dan distribusi LPG memiliki posisi yang sangat penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Ketika pasokan global terganggu atau distribusi dalam negeri mengalami hambatan, dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat.
“Ketahanan energi bukan hanya soal produksi, tetapi juga bagaimana energi itu dapat sampai dengan aman, lancar, dan berkesinambungan hingga ke pengguna akhir LPG di Indonesia, yaitu rumah tangga, UMKM, restoran, hingga sektor industri,” lanjut Achmad.
Karena itu, PT Arsynergy Resources terus berupaya mengoptimalkan operasional kilang dan jaringan distribusinya. Dalam kondisi ketergantungan impor yang masih tinggi, keberadaan fasilitas pengolahan LPG domestik dinilai menjadi bagian penting dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022