
ILUSTRASI. PT PLN (Persero) siap menghadirkan listrik dari 100 persen energi hijau. (ANTARA)
JawaPos.com - Ekonom Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Hendry Cahyono memandang positif kerja sama Indonesia dan Jepang di sektor energi dan mineral. Langkah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ini diyakini bisa membuka jalan terhadap transisi energi hijau nasional.
Kerja sama dengan Jepang meliputi pengembangan energi nuklir, ekspor LNG, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Dari kolaborasi ini terlihat bahwa Indonesia tengah serius mengarah kepada energi bersih berbasis teknologi maju.
“Dari sisi teknis dan ekonomi, Indonesia sebenarnya sudah berencana mengembangkan PLTN sejak era 1960-an. MoU ini menunjukkan ada langkah maju, meskipun jalan menuju realisasinya masih panjang,” kata Hendry saat dihubungi, Selasa (17/3).
Kerja sama ini tertuang dalam Memorandum of Cooperation (MoC) yang ditandatangani Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa.
Diplomasi ini dipercaya bisa mempercepat transisi energi hijau nasional, termasuk nuklir yang dikenal berbiaya tinggi dan sulitnya transfer energi. Oleh karena itu, kerja sama ini harus dimanfaatkan secara maksimal.
“Indonesia memiliki sekitar 43 persen cadangan nikel dunia, serta cadangan bauksit, timah, tembaga, dan logam tanah jarang. Ini menjadi modal kuat untuk hilirisasi dan pengembangan industri energi hijau,” imbuhnya.
Ia menambahkan, kerja sama ini tidak hanya soal pasokan energi, tetapi juga berpotensi menciptakan dampak ekonomi berlapis bagi Indonesia. Mulai dari peningkatan efisiensi produksi hingga penciptaan lapangan kerja.
“Diharapkan ada multiplier effect bagi efisiensi produksi nasional, peningkatan pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja,” kata Hendry.
Lebih lanjut, Hendry menyebut di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu, langkah Indonesia memperkuat kerja sama energi dinilai sebagai keputusan yang tepat dan visioner.
“Langkah ini merupakan respons rasional terhadap disrupsi geopolitik. Posisi Indonesia saat ini justru berada pada window of opportunity yang sangat baik,” tandasnya.
