
Yayasan Rumah Energi menggagas program fasilitas biogas yang mampu menekan emisi 2,5 ton setara karbon dioksida (CO₂e) per tahun. (ANTARA)
JawaPos.com - Yayasan Rumah Energi menggagas program fasilitas biogas yang mampu menekan emisi 2,5 ton setara karbon dioksida (CO₂e) per tahun serta rumah pengering berbasis tenaga surya (Solar Dryer House) di Sukabumi, Jawa Barat.
"Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat sejak perencanaan hingga pengelolaan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan," kata Direktur Yayasan Rumah Energi Sumanda Tondang dikutip Sabtu (14/2).
Fasilitas biogas dan Solar Dryer House ini digagas Rumah Energi dan PT Insight Investment Management dan didukung pendanaan Ford Foundation dalam kerangka proyek Pro Women 3. Sumanda mengatakan, perluasan program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat model energi terbarukan berbasis komunitas.
Peresmian fasilitas tersebut dilakukan oleh Bupati Sukabumi Asep Japar di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, untuk fasilitas biogas, serta di Kampung Babakan Asem, Desa Loji, untuk Solar Dryer House. Acara peresmian itu juga dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Budi Azhar Mutawali.
Program biogas di Kampung Cihurang memanfaatkan limbah organik dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk diolah menjadi energi bersih kebutuhan memasak warga. Selain mengurangi volume sampah organik, pemanfaatan tersebut berpotensi menekan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 2,5 ton setara karbon dioksida per tahun serta mengurangi ketergantungan pada LPG.
Residu biogas juga dapat diolah menjadi pupuk cair dan padat guna mendukung praktik pertanian ramah lingkungan di tingkat desa.
Sementara itu, Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem, kata Sumanda, dikembangkan untuk menjawab persoalan pengeringan pascapanen bawang merah dan padi yang selama ini masih mengandalkan penjemuran terbuka. Teknologi pengering berbasis energi matahari tersebut dirancang menjaga kestabilan suhu sehingga kualitas hasil panen lebih merata dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Bupati Sukabumi Asep Japar, dalam peresmian, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat yang dinilai mampu memberikan manfaat lingkungan sekaligus ekonomi bagi warga desa.
“Pemanfaatan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih bisa hadir dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta peningkatan kesejahteraan warga,” kata Asep.
Rumah Energi menyatakan model kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta tersebut diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain sebagai bagian dari pembangunan rendah karbon berbasis desa.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
