Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 22.42 WIB

Industri Pelumas Ubah Haluan di Era Kendaraan Listrik, EMLI Dorong Adopsi Pelumas Sintetis

Ilustrasi industri berat saat ini menjadi fokus yang diseriusi produsen pelumasan di tengah pergeseran tren kendaraan listrik. (Hexa) - Image

Ilustrasi industri berat saat ini menjadi fokus yang diseriusi produsen pelumasan di tengah pergeseran tren kendaraan listrik. (Hexa)

JawaPos.com-Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 yang mencapai 5,12 persen menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), masih ditopang sektor industri pengolahan dan pertambangan. 

Namun, di balik angka positif tersebut, industri pendukung seperti pelumas menghadapi dinamika besar. Pasar otomotif berangsur meninggalkan mesin berbahan bakar fosil menuju elektrifikasi.

Di tengah pergeseran itu, PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI) berupaya mengubah strategi. Tak lagi hanya mengandalkan pasar kendaraan bermotor konvensional, perusahaan memperkuat portofolio pelumas sintetis untuk sektor industri berat, mulai dari pertambangan, manufaktur, energi, hingga makanan dan minuman.

“ExxonMobil berkomitmen mendukung pertumbuhan sektor industri di Indonesia lewat solusi pelumasan canggih. Inovasi produk dan kemitraan strategis memungkinkan pelanggan memaksimalkan mesin sekaligus mendukung keberlanjutan,” ujar Presiden Direktur EMLI, Syah Reza di Jakarta belum lama ini.

Pelumas sintetis berbeda dengan pelumas mineral, diformulasikan dengan molekul buatan dan aditif berteknologi tinggi sehingga lebih stabil pada suhu ekstrem. 

Keunggulannya bukan sekadar memperpanjang umur mesin, tapi juga mampu menekan konsumsi energi dan biaya perawatan, isu krusial di tengah ketatnya persaingan industri.

Beberapa yang diunggulkan EMLI antara lain Mobil SHC 600 Series untuk suhu tinggi dan kondisi kerja berat, berpotensi menghemat energi hingga 3,6 persen. Lalu ada Mobil Rarus SHC 1020 Series yang dirancang untuk kompresor udara, mampu memperpanjang interval penggantian oli dan beberapa jenis lainnya.

“Pelumas sintetis Mobil dengan indeks viskositas tinggi dan stabilitas termal unggul mampu menurunkan suhu operasi, mengurangi gesekan, serta memperpanjang usia pakai mesin. Ini berarti efisiensi energi dan biaya lebih terukur,” jelas FX Yanto, Business Development Commercial Lubricants EMLI.

Pergeseran Haluan Pasar

Di saat kendaraan listrik diproyeksi akan menekan permintaan oli mesin dalam jangka panjang, fokus industri pelumasan bergeser ke sektor non-otomotif. Sektor energi, tambang, manufaktur, hingga pangan menjadi ceruk pasar baru yang terus berkembang.

Analis industri menilai langkah ExxonMobil ini menunjukkan bagaimana bisnis pelumas harus bertransformasi cepat. Ketika elektrifikasi kendaraan mengurangi pasar oli mesin, sektor industri berat dipandang sebagai penopang baru bisnis pelumasan. 

Namun tantangan tetap besar: harga pelumas sintetis relatif lebih tinggi dibanding pelumas mineral, sehingga adopsinya memerlukan edukasi pasar dan bukti penghematan jangka panjang. Meski begitu, EMLI optimistis bahwa arah pasar akan semakin mendukung.

“Pelumas sintetis tidak hanya memberi keuntungan finansial, tapi juga mendukung target keberlanjutan industri,” tegas Syah Reza.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore