Direksi PHE dan Manajemen Pertamina EP meninjau pembangunan Fasilitas Produksi Stasiun Pengumpul Akasia Bagus Stage 1 pada awal Desember 2024. (Pertamina EP)
JawaPos.com - Pertamina EP, anak perusahaan PT Pertamina (Persero), mencatatkan tonggak sejarah baru dengan menerapkan teknologi CO2 Removal Package berbasis amine system pertama di dunia.
Langkah inovatif ini merupakan bagian dari proyek optimasi pengembangan lapangan-lapangan (OPLL) Akasia Bagus–Gantar di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang bertujuan untuk meningkatkan potensi produksi minyak dan gas bumi.
Proyek ini melibatkan pengeboran 22 sumur pengembangan serta pembangunan fasilitas produksi SP Akasia Bagus (ABG) Tahap 1 dan Tahap 2.
Targetnya, proyek ini mampu menambah produksi minyak hingga 12,71 juta barel (MMSTB) dan gas sebesar 10,53 miliar kaki kubik standar (BSCF). Hingga saat ini, sebanyak 12 dari total 26 sumur di lapangan tersebut telah selesai dibangun.
Afwan Daroni, General Manager Pertamina EP wilayah Jawa Barat, menjelaskan bahwa fasilitas produksi ini dirancang untuk mengolah minyak dan gas dengan kapasitas total mencapai 9.000 barel cair per hari (BLPD) dan 22 juta kaki kubik standar gas per hari (MMSCFD).
“Teknologi ini akan membantu mengolah gas dengan kadar CO2 tinggi, mencapai 65% mole, sesuai spesifikasi penjualan gas dalam perjanjian eksisting di Jawa Barat,” ungkapnya.
Proyek ini mengintegrasikan teknologi AGRU (Acid Gas Removal Unit), Gas Dehydration Unit, dan Thermal Oxidation (TOX). Teknologi ini bertujuan untuk mengurangi kadar CO2, H2S, dan air agar memenuhi standar penjualan gas.
Implementasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas gas tetapi juga membuka peluang penerapan metode Carbon Capture, Utilization & Storage (CCUS) sebagai langkah mendukung target net zero emission.
Lapangan Akasia Bagus telah menggunakan fasilitas Early Production Facilities (EPF) untuk menangani produksi awal. Fasilitas produksi tahap 1 diproyeksikan mulai beroperasi penuh pada Februari 2025 untuk cairan dan dilanjutkan oleh AGRU pada Mei 2025. “Proyek ini merupakan wujud komitmen kami terhadap keberlanjutan lingkungan dan peningkatan produksi energi,” tambah Afwan.
Dengan keberadaan teknologi baru ini, Pertamina EP berharap dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan energi nasional sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. Regional Jawa sebagai pelaksana proyek memastikan seluruh operasi dilakukan sesuai prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan standar HSSE.
Langkah ini sejalan dengan visi Pertamina Hulu Energi sebagai Subholding Upstream dalam mengelola lapangan minyak dan gas di dalam dan luar negeri. Teknologi berbasis amine system ini menjadi model inovasi yang diharapkan bisa diaplikasikan di wilayah lain dengan kadar CO2 tinggi.
Pertamina EP juga mengajak semua pihak untuk mendukung langkah inovatif ini guna memastikan keberlanjutan energi dan pencapaian target emisi nol bersih di masa depan.

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di 16 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Lionel Messi atau Mohamed Salah
