
Minyak mentah dunia mempengaruhi perdagangan energi global. (Markets)
JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia ditutup menguat tajam pada perdagangan Selasa (2/9). Lonjakan harga dipicu langkah Amerika Serikat (AS) yang kembali menjatuhkan sanksi terhadap jaringan pelayaran internasional yang dituding membantu Iran menyalurkan minyak secara ilegal.
Situasi ini kian mempertegas ketegangan geopolitik di Timur Tengah, di saat pasar juga menanti hasil pertemuan penting OPEC+ akhir pekan ini.
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent naik USD 0,99 atau 1,45 persen ke level USD 69,14 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melonjak USD 1,58 atau 2,47 persen menjadi USD 65,59 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya pasar di AS libur memperingati Hari Buruh.
Departemen Keuangan AS menyatakan telah menjatuhkan sanksi terhadap jaringan pelayaran yang dipimpin pengusaha asal Irak-Kittitia.
Jaringan ini dituduh menyamarkan ekspor minyak Iran sebagai minyak Irak untuk menghindari embargo. Washington menilai praktik tersebut menjadi sumber pendapatan utama bagi Teheran di tengah tekanan ekonomi.
Langkah itu sekaligus menegaskan strategi pemerintahan Presiden Donald Trump yang tetap keras terhadap Iran. Tekanan ini muncul di saat perundingan nuklir antara kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan.
Bagi pasar energi, kebijakan baru tersebut dipandang sebagai faktor risiko yang bisa membatasi pasokan global dan mendongkrak harga.
Namun demikian, di luar faktor geopolitik, investor juga menaruh perhatian pada pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Koalisi produsen minyak terbesar dunia tersebut diperkirakan akan membahas strategi produksi di tengah permintaan global yang belum pulih sepenuhnya.
Beberapa analis memprediksi OPEC+ akan tetap berhati-hati menjaga stabilitas harga dengan mempertahankan kebijakan pemangkasan produksi. Namun, jika kelompok ini memberi sinyal peningkatan pasokan, pasar bisa kembali tertekan.
Kenaikan harga minyak diperkirakan bisa menambah tekanan inflasi di berbagai negara, terutama bagi importir energi. Di AS, harga minyak yang lebih tinggi dapat memperlambat tren penurunan inflasi, sehingga memperumit kebijakan moneter Federal Reserve.
Sementara itu, di kawasan Asia, Jepang, Korea Selatan, hingga India berpotensi terkena dampak lebih besar karena ketergantungan tinggi pada impor minyak mentah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Desta Resmi Hengkang dari Vindes, Perusahaan Berjalan Bersama Vincent Rompies
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor Celta Vigo vs Osasuna di Liga Spanyol 2026/2027: Los Celestes Bakal Raih 3 Poin!
Prediksi Skor Celje vs Slovan Bratislava di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Berujung Penalti?
Prediksi Skor Lyon vs Fenerbahce di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Kans Les Gones Menang!
Kiai Ta’in Tebuireng Dipolisikan Jelang Muktamar NU, TAAT Pasang Badan
Prediksi Skor Rapid Wien vs Hearts di Play-off Liga Konferensi Eropa: Tim Tamu Dijagokan Lolos!
