Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 Maret 2024 | 00.57 WIB

Butuh Tiga Kali Lipat Kapasitas EBT untuk Tekan Emisi Karbon pada 2030

PERTAMA: Presiden Jokowi meresmikan PLTB pertama di Indonesia, di Kabupaten Sidrap, Sulsel, Senin (2/7). - Image

PERTAMA: Presiden Jokowi meresmikan PLTB pertama di Indonesia, di Kabupaten Sidrap, Sulsel, Senin (2/7).

JawaPos.com - Butuh upaya masif untuk mengejar target menekan emisi karbon nol pada 2050 (NZE). Penggunaan energi yang efisien menjadi aspek penting. Butuh kerja sama dengan para pelaku industri dalam prosesnya kedepan.

Sistem energi telah bertransformasi secara drastis sejak revolusi industri. Dalam 100 tahun terakhir, konsumsi energi secara global meningkat sampai 10 kali lipat.

Produksi energi, khususnya dari hasil pembakaran bahan bakar fosil, menyumbang sekitar tiga perempat gas rumah kaca atau CO2. Produksi CO2 yang berlebihan telah memengaruhi perubahan iklim ekstrem.

Butuh upaya transisi energi secara global untuk mengontrol iklim dan mencapai berkelanjutan. Mengacu riset Badan Energi Internasional alias International Energy Agency (IEA), untuk mencapai net zero carbon emission sampai 2030 perlu tiga kali lipat kapasitas new and renewable energy alias energi baru dan terbarukan (EBT) ataupun dua kali lipat kapasitas efisiensi energi.

"Jadi, kita harus tambah usaha lagi dua kali lipat (efisiensi energi) untuk target 2030 saja," ucap Vice President Head of Motion Business Area PT ABB Chen Kang Tan saat ditemui di kantornya, Rabu (13/3).

Selain itu, dibutuhkan upaya menurunkan gas metana dari bahan bakar fosil sebanyak 75 persen. Peran pemain industri juga diperlukan. Semua kapasitas industri berat baru harus mampi menerapkan near-zero-emission.

Di situasi sekarang, terdapat dua skenario yang disepakati dalam Perjanjian Paris. Pertama, state policies scenario. Artinya, skenario terhadap kebijakan pemerintah, terutama di Indonesia, untuk menekan emisi karbon. Hanya saja, upaya parsial itu tidak lantas signifikan sampai nol persen secara global.

Nah, skenario kedua adalah upaya semua negara dunia berusaha sungguh-sungguh untuk mengurangi emisi karbon. Mulai dari penggunaan energi nuklir, elektrifikasi, penggunaan EBT, hingga penggunaan energi secara efisien.

"Yang dimaksud efisiensi itu bukan tidak menggunakan energi sama sekali. Tapi tetap menggunakan hasil yang sama sesuai kebutuhan namun dari energi atau proses yang lebih singkat. Sehingga energinya tidak sia-sia," jelas pria yang akrab disapa CK itu.

Untuk benar-benar sampai net zero emission pada 2050, lanjut dia, sistem energi harus sudah bertransformasi. Antara lain, 90 persen listrik dihasilkan dari energi terbarukan dan konsumsi energi 50 persen terelektrifikasi.

Makanya, ABB mengampanyekan gerakan efisiensi energi. Mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama berinovasi dan bertindak untuk dunia yang lebih energi efisien, regeneratif, serta adaptif.

"Efisiensi energi bukan hanya sebuah imbauan, tapi sebuah keharusan. Solusi sederhana dan berdampak tinggi untuk mengurangi dampak perubahan iklim," kata CK.

Makanya, perlu meningkatkan kesadaran akan perlunya mengurangi konsumsi energi. Melalui penggunaan yang wajar dan berkelanjutan untuk meredakan krisis iklim aktual yang semakin memburuk dari waktu ke waktu.

"Pada 2021, ABB mengampanyekan gerakan efisiensi energi, bersama pelaku-pelaku industri dan ratusan perusahaan bergabung sejak peluncurannya," ujarnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore