
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati membacakan jawaban pemerintah atas tanggapan fraksi, dalam Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/8). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com - Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020, pemerintah mengusulkan target pertumbuhan ekonomi di level 5,3 persen. Perekonomian global yang masih penuh ketidakpastian menjadi salah satu hambatan utama pencapaian target pertumbuhan ekonomi dari sisi perdagangan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto pun memberikan masukan agar pemerintah melakukan pembenahan di industri pengolahan. Sebab, berdasarkan catatan BPS, industri ini memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Kalau saya berharapnya itu tadi, ada sedikit pembenahan di industri pengolahan. Kuncinya ada di sana. Kalau industri pengolahan itu bergerak naik, karena share-nya gede sekali 19,5 persen, ada pergerakan sedikit saja dia akan bisa menaikkan," kata pria yang akrab disapa Kecuk itu kepada JawaPos.com, usai rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu (28/8).
Pertumbuhan ekonomi kuartal-II 2019 tercatat sebesar 5,05 persen. Menurut lapangan usaha, industri memberikan andil terbesar dengan share mencapai 19,52 persen.
Berturut-turut setelahnya yakni pertanian (13,57 persen), perdagangan (12,95 persen), konstruksi (10,37 persen), dan pertambangan (7,38 persen). Selain membenahi industri, Kecuk juga menyarankan agar pemerintah mendorong hilirisasi.
Sebab, hilirisasi ini akan dapat menciptakan lapangan kerja, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Meningkatnya pendapatan berarti daya beli naik asalkan inflasinya terkendali.
"Jadi, saya lebih berharap di konsumsi rumah tangga. Akan lebih reasonable daripada saya berharap ke ekspor," imbuhnya.
Kecuk pesimistis, kinerja ekspor akan signifikan mengerek pertumbuhan ekonomi lantaran harga komoditas anjlok. "Volume ekspor kita masih naik lho. Tapi, kalau harganya jatuhnya seperti itu, apa yang bisa kita perbuat?" katanya.
Berdasarkan catatan BPS, ekspor nonmigas Januari-Juli 2019 dari sisi volume mengalami kenaikan 9,79 persen year-on-year (yoy). Sepanjang Januari-Juli 2018, volume ekspor nonmigas RI hanya sebanyak 326,92 juta ton.
Namun, pada Januari-Juli 2019, volume ekspor nonmigas RI tercatat mencapai 358,92 juta ton. Akan tetapi, dari sisi nilai mengalami penurunan sebesar 6,58 persen.
Nilai ekspor nonmigas RI pada Januari-Juli 2018 mencapai USD 94,27 miliar. Namun, pada Januari-Juli 2019 nilai ekspor nonmigas RI hanya sebesar USD 88,07 miliar.
"Jadi, menurut saya ini kalau untuk menggenjot ekspor dalam jangka pendek dengan perekonomian global yang masih penuh ketidakpastian akan berat," katanya.
"Saya akan lebih menekankan bagaimana konsumsi dalam negeri, yang bisa dipicu. Jadi, kalau industrinya naik, menciptakan lapangan kerja, tapi juga menciptakan konsumsi domestik," pungkasnya.
Sementara itu, anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan pesimistis mendengar target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen yang diusulkan pemerintah. Dia pun menilai perkiraan dari Bank Indonesia (BI) lebih realistis di rentang 5,1 persen hingga 5,5 persen.
"Saya pesimistis dengan perkiraan yang dibuat pemerintah, utamanya pertumbuhan ekonomi 5,3 persen, ambisius, tidak akan terealisasi. Dari chart yang dipaparkan Menkeu tadi, faktor yang mempengaruhi PDB, tidak ada yang lebih baik dari tahun-tahun lalu," katanya.
"BI tadi bilang antara 5,1-5,5 persen. Bisa jadi, kalau saya ikuti proyeksi BI paling banter 5,2 persen," imbuh politikus Partai Gerindra itu.
Dalam rapat kerja tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, pemerintah mengusulkan target pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2020 sebesar 5,3 persen. Usulan tersebut telah mempertimbangkan perkembangan kondisi global dan domestik.
"Kami sampaikan asumsi pertumbuhan ekonomi 2020 yaitu 5,3 persen yang didukung permintaan agregat sebagai berikut: dari sisi konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh lima persen, LNPRT negatif akibat pasca pemilu, konsumsi pemerintah masih bisa kontribusi 4,3 persen, investasi proyeksinya 6 persen, ekspor akan menghadapi ketidakpastian kami asumsikan recover 3,7 persen. Secara keseluruhan perekonomian 2020 tumbuh di 5,3 persen," tutur Sri Mulyani.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Sevilla vs Valencia di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Union Berlin vs Schalke 04 di Liga Jerman: Kans Die Knappen Bikin Tuan Rumah Terpukul
Prediksi Skor Garudayaksa vs Persik di Super League: Tuan Rumah Tak Ingin Malu di Kandang!
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Susunan Pemain Garudayaksa FC vs Persik Kediri: Septian David Incar Kemenangan!
Prediksi Skor Crystal Palace vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Eagles Berpeluang Pesta Gol
Prediksi Skor Bournemouth vs Brentford di Liga Inggris: Laga Sengit Berpotensi Imbang di Vitality
Prediksi Skor Aston Villa vs Nottingham Forest di Liga Inggris: Kans The Villa Menang Tipis
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022