Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Ilham Safutra
Senin, 2 November 2026 | 04.04 WIB

Dorong Hilirisasi Nikel Jadi Produk Baterai Kendaraan Listrik

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat mengikuti Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat mengikuti Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong hilirisasi nikel menjadi produk baterai kendaraan listrik. Untuk itu, investasi untuk nikel di Indonesia harus menuju produk akhir.

“Hilirisasi kita tidak boleh berhenti pada produk setengah jadi. Kita harus bergerak sampai menghasilkan produk akhir, termasuk baterai kendaraan listrik, agar nilai tambah, lapangan pekerjaan, dan penguasaan teknologi benar-benar berada di Indonesia,” kata Bahlil pekan lalu.

Melalui pendalaman industri tersebut, pemerintah ingin memperbesar manfaat pengolahan nikel bagi tenaga kerja dan kemampuan teknologi nasional.

Menurut dia, perubahan arah ini berangkat dari tantangan struktur industri pengolahan. Dalam naskah kebijakan yang disampaikan, sekitar 50–60 persen kapasitas smelter nikel masih menghasilkan produk antara.

Artinya, pengembangan fasilitas pengolahan masih menyisakan pekerjaan untuk menyambungkan hasil smelter dengan industri pembuat produk akhir. 

Indonesia perlu memperpanjang rantai produksi agar manfaat ekonomi pengolahan mineral semakin besar dinikmati di dalam negeri.

Pemerintah juga mengkaji pembatasan pembangunan smelter baru yang hanya memproduksi bahan setengah jadi. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya mengarahkan investasi ke tahapan pengolahan yang lebih tinggi.

Sejauh ini hilirisasi telah mengangkat nilai perdagangan nikel. Berdasarkan data dalam naskah, ekspor nikel beserta produk turunannya meningkat dari USD 3,3 miliar (2017) menjadi USD 33,9 miliar (2024).

Namun, kenaikan ekspor perlu diikuti penguatan kemampuan menghasilkan produk akhir. Tantangannya mencakup kesiapan teknologi, pasokan energi, cadangan mineral, serta pasar yang akan menyerap hasil industri.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore