
Teller menunjukan mata uang Dolar AS dan Rupiah di salah satu kantor cabang Bank Mandiri di Jakarta, Senin (9/3/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan sejak Presiden Prabowo Subianto dilantik pada 20 Oktober 2024 hingga beberapa kali menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada Oktober 2026.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 15.490 per dolar AS pada 21 Oktober 2024, atau sehari setelah Prabowo dilantik, sedangkan pada 16 Oktober 2026, kurs JISDOR tercatat lanjut amblas ke Rp 18.052 per dolar AS.
Dengan demikian, rupiah telah melemah Rp 2.562 atau sekitar 16,54 persen hanya berselang sehari setelah pelantikan Prabowo. Pergerakan tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi mata uang domestik selama dua tahun terakhir.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, melihat selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo, rupiah menunjukkan tren pelemahan yang cukup mengkhawatirkan.
"Pada 2025, rupiah justru gagal memanfaatkan pelemahan dolar AS secara global dan tetap terdepresiasi," ujar Lukman dihubungi JawaPos.com, Senin (19/10).
Presiden Prabowo Subianto dengan disaksikan Presiden keenam RI Joko Widodo mengucapkan sumpah jabatan dalam sidang paripurna MPR dengan agenda pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia masa bakti 2024-2029 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Minggu (20/10/2024). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Lukman mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi utamanya faktor domestik. Termasuk kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal, arus modal asing, dan kredibilitas kebijakan ekonomi.
Ia menyebut, pada tahun 2026 tekanan semakin besar dan rupiah kembali melemah hingga menembus level Rp 18.000 per dolar AS.
"Selain faktor global seperti harga minyak, prospek suku bunga the Fed, global bond sell off, dan ketidakpastian geopolitik, sentimen terhadap pasar keuangan domestik, termasuk isu tata kelola pasar modal dan kekhawatiran terhadap independensi kebijakan, turut membebani rupiah," ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022