Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Oktober 2026 | 14.02 WIB

Usulan MSCI Jadi Momok, Rupiah Dibayangi Potensi Arus Keluar Modal

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Senin (19/10), setelah sebelummya ditutup melemah sebesar 89 poin menjadi Rp 18.027 per dolar AS pada perdagangan Jumat (16/10).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri.

"Untuk perdagangan (19/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.020 - Rp 18.070,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Senin (19/10).

Ibrahim mengatakan, salah satu sentimen yang berpotensi menekan rupiah berasal dari rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengusulkan penurunan status pasar modal Indonesia dari pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

Usulan tersebut didasari oleh kekhawatiran MSCI terhadap persoalan tata kelola pasar modal Indonesia serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Meski berbagai upaya reformasi telah dilakukan, MSCI masih menyoroti lemahnya penegakan aturan dan disfungsi pasar.

Keputusan akhir terkait usulan tersebut dijadwalkan akan ditetapkan pada 30 Juni 2027. Namun, ketidakpastian mengenai status pasar modal Indonesia berpotensi memengaruhi kepercayaan investor asing terhadap aset domestik.

Sebelumnya, Goldman Sachs memperkirakan penurunan status tersebut dapat memicu arus keluar modal hingga USD 13 miliar. Hal ini berpotensi terjadi karena manajer investasi aktif dapat mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia untuk menghindari ketidaksesuaian dengan tolok ukur investasi (benchmark).

Arus keluar modal dalam jumlah besar berisiko menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah sekaligus mengurangi likuiditas di pasar keuangan domestik.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen melanjutkan pembenahan pasar modal Indonesia. OJK juga menegaskan bahwa pasar domestik masih memiliki daya tarik bagi investor.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore