Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Oktober 2026 | 22.45 WIB

Pertumbuhan Vietnam Capai 9 Persen, Airlangga Dorong Digitalisasi hingga AI

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan paparan pada konferensi pers Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Semester 2 Tahun 2026 di Jakarta, Senin (22/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan paparan pada konferensi pers Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Semester 2 Tahun 2026 di Jakarta, Senin (22/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia perlu mempercepat transformasi ekonomi untuk mengejar laju pertumbuhan Vietnam.

Menurutnya, pengembangan digitalisasi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu sektor yang perlu didorong.

Airlangga mengatakan, Vietnam telah lebih dahulu memperluas industrinya hingga sektor tier 3, selain mengembangkan hilirisasi. Sementara itu, struktur industri Indonesia dinilai masih banyak bertumpu pada sektor tier 1 dan tier 2.

"Dan yang double dari angka kita adalah negara tetangga, Vietnam, yang juga dengan selain hilirisasi mereka masuk juga ke industri yang di tier 3. Jadi kalau kita lihat tier 1 adalah agro-based industry, tier 2 adalah industrialisasi yang bread and butter, dan di tier 3 itu sudah masuk digitalisasi, semikonduktor, dan yang lain," ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (6/10).

Airlangga mengatakan, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada di kisaran 5 persen. Untuk mengejar Vietnam yang mampu mencapai sekitar 9 persen, Indonesia perlu mempercepat pengembangan sektor-sektor dengan nilai tambah lebih tinggi.

“Kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai 9 persen, maka kita harus lari juga ke digitalisasi, semikonduktor, AI. Jadi itu seluruhnya leverage yang Vietnam sudah lakukan lebih dulu dari Indonesia," ucapnya.

Selain pengembangan industri, Airlangga menyoroti perbedaan skala kawasan ekonomi khusus (KEK) antara Indonesia dan Vietnam.

Menurutnya, luas KEK di Indonesia saat ini sekitar 24.000 hektare. Sementara Vietnam memiliki kawasan serupa dengan luas mencapai sekitar 2 juta hektare.

"Bayangkan Indonesia punya special economic zone itu kira-kira 24.000 hektar. Vietnam punya special economic zone 2 juta hektar. Jadi dia lebih masif dari kita, lebih berani, dan sebetulnya dari segi kepastian usaha, mereka juga memberikan pelayanan yang baik kepada para investor," jelasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore