Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Oktober 2026 | 20.25 WIB

Penyaluran Kredit Perbankan per Agustus 2026 Mencapai Rp 9.178 Triliun

Total penyaluran kredit perbankan per Agustus 2026 tumbuh 13,65 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp 9.178 triliun. (Hanung Hambara/Jawa Pos) - Image

Total penyaluran kredit perbankan per Agustus 2026 tumbuh 13,65 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp 9.178 triliun. (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penyaluran kredit secara bulanan (month to month/mtm) menunjukkan pertumbuhan yang kuat pada beberapa sektor strategis, seperti perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, pertambangan, pertanian, hingga konstruksi.

“Pertumbuhan kredit dari sektor-sektor tersebut dipandang akan terus mendorong pertumbuhan penyaluran kredit dan diharapkan dapat mendukung pencapaian target kredit perbankan sampai akhir tahun ini,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) secara daring di Jakarta, Senin (5/10).

Secara rinci, Dian menyampaikan bahwa kredit kepada sektor perdagangan besar dan eceran mencatatkan porsi sebesar 14,73 persen, diikuti sektor industri pengolahan dengan porsi kredit sebesar 16,66 persen.

Selanjutnya, sektor pertambangan dan penggalian dengan porsi kreditnya sebesar 5,21 persen; sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan porsi sebesar 6,79 persen; serta sektor konstruksi dengan porsi 6,70 persen.

Adapun total penyaluran kredit perbankan per Agustus 2026 tumbuh 13,65 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp 9.178 triliun.

OJK mencatat, pertumbuhan kredit berada di atas pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Per Agustus 2026, DPK tumbuh sebesar 10,94 persen (yoy) menjadi sebesar Rp 10.413 triliun.

Sejalan dengan itu, loan to deposit ratio (LDR) perbankan tercatat sebesar 88,14 persen, meningkat baik secara bulanan maupun tahunan.

Meski LDR naik, Dian mengatakan bahwa hal tersebut perlu dilihat secara proporsional sebagai bagian dari fungsi intermediasi perbankan, meskipun pada saat yang bersamaan mencerminkan adanya penurunan likuiditas sebagai konsekuensi dari penyaluran kredit yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan sumber pendanaannya.

Dalam beberapa bulan terakhir, imbuh dia, alat likuid perbankan juga terpantau cenderung melandai, khususnya pada bank-bank dengan pertumbuhan kredit yang relatif tinggi.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore