Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Oktober 2026 | 15.22 WIB

Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.000, Pasar Cermati Data Ekonomi

Pegawai menunjukan mata uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan Jumat (2/10), setelah sebelummya ditutup melemah sebesar 71 poin menjadi Rp 17.965 per dollar AS pada perdagangan Kamis (1/10).
 
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri.
 
"Untuk perdagangan (2/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.960 - Rp 18.030,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Jumat (2/10).
 
Ibrahim mengatakan, Ibrahim mengatakan, sejumlah sentimen domestik tersebut akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan rupiah. Kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansi dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia.
 
 
Aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di Agustus. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,4 di September 2026 atau mengalami ekspansi. 
 
“PMI berbalik arah dari sebelumnya fase kontraksi 49,8 di Agustus 2026. Indeks PMI di September yang mencapai 52,4 adalah yang tertinggi sejak Februari 2026 atau tujuh bulan,” ujarnya.
 
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami suplus USD 3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ini ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai USD 26,61 miliar melampaui nilai impor USD 23,06 miliar per Agustus 2026. 
 
Adapun, BPS mencatat nilai ekspor RI mencapai USD 26,61 miliar atau naik 6,72 persen secara tahunan pada Agustus 2026. 
 
Sementara itu, impor Indonesia tercatat sebesar USD 23,06 miliar, naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025. Demikian pula dengan impor nonmigas naik 17,20 persen menjadi USD 19,53 miliar. 
 
Menurut data BPS, ekspor Indonesia meningkat terutama didorong oleh sejumlah komoditas a.l. nikel yang naik 51,67 persen secara tahunan dan alumunium yang meroket hingga 206,78 persen secara tahunan pada Agustus 2026.
 
Kemudian, Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali meningkat pada September 2026. Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi dan sejumlah bahan pangan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. 
 
“IHK tercatat mengalami inflasi sebesar 0,30 persen secara bulanan (mtm) pada September 2026. Adapun, secara year on year, inflasi sebesar 3,28 persen.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore