Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Juli 2026 | 03.00 WIB

Indeks Kepercayaan Industri Juni 2026 Tercatat 52,90

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif dalam konferensi pers Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026, di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (30/6). (Djati Waluyo/ Jawapos.com) - Image

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif dalam konferensi pers Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026, di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (30/6). (Djati Waluyo/ Jawapos.com)

JawaPos.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni sebesar 52,90 atau melambat sebesar 0,66 poin jika dibandingkan dengan capaian Mei sebesar 53,56.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan meski nilai IKI Juni 2026 melambat kondisi industri nasional masih berada pada fase ekspansif dan masih meningkat sebesar 1,06 poin jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025 sebesar 51,84.

“IKI pada bulan Juni 2026 adalah sebesar 52,90, masih ekspansi di atas 50 meski melambat 0,66 poin dibandingkan dengan bulan Mei 2026 yang sebesar 53,56,” ujar Febri dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/6).

Ia menjelaskan, pada IKI juni variable pesanan baru mengalami perlambatan sebesar 0,12 poin menjadi 53,35, sedangkan variable produksi mengalami ekspansi pada angka 54,28.

Febri mengatakan, industri dalam negeri menghadapi tantangan lebih berat bulan sebelumnya. Pada bulan Mei 2026 tantangan hanya berasal dari sisi produksi, maka pada Juni pelaku industri menghadapi tantangan dari dua sisi sekaligus, produksi dan permintaan.

"Tantangan tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga mulai muncul dari sisi permintaan. Meski demikian, sektor industri tetap menunjukkan resiliensi yang kuat sehingga aktivitas manufaktur nasional masih tetap berada pada fase ekspansi pada bulan Juni 2026 ini," ujarnya.

Febri mengatakan dari sisi produksi, industri dalam negeri masih dibayangi kenaikan harga bahan baku impor sebagai dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu peningkatan harga energi dunia.

Di saat bersamaan, pelemahan nilai tukar rupiah turut meningkatkan biaya pengadaan bahan baku impor sehingga menambah beban biaya produksi industri.

Selain itu, pada Juni 2026, sejumlah sebagian industri dan kawasan industri juga menghadapi gangguan berupa pemadaman listrik yang menghambat proses produksi, terutama bagi industri yang operasional sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik.

"Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah industri dan kawasan industri menyebabkan sebagian perusahaan harus menghentikan proses produksinya selama gangguan berlangsung. Kondisi tersebut tentu memengaruhi efisiensi operasional industri," ucapnya.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore