Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 Juni 2026 | 18.32 WIB

Harga Pertamax Green 95 Naik Jadi Rp 17.000 per Liter, Celios Soroti Program Ketahanan Energi Bioetanol

Pertamina menaikkan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green Rp 17.000 per liter mulai 10 Juni 2026. Pertalite dan Biosolar tetap tidak berubah. (Istimewa) - Image

Pertamina menaikkan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green Rp 17.000 per liter mulai 10 Juni 2026. Pertalite dan Biosolar tetap tidak berubah. (Istimewa)

JawaPos.com - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, menyoroti kenaikan harga Pertamax Green 95 dari Rp 12.900 ke Rp 17.000 per liter per 10 Juni 2026.

Bhima menilai hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan porsi campuran bioetanol dalam bensin tidak serta-merta membuat harga bahan bakar minyak nabati (BBN) menjadi lebih terjangkau. 

Sebaliknya, dalam situasi krisis energi seperti sekarang, harga BBN yang mengandung campuran etanol justru mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan jenis bahan bakar lainnya.

"Jadi semakin besar campuran bioetanol dengan bensin, maka akan semakin besar juga beban defisit APBN dan akhirnya akan menambah utang pemerintah yang sekarang sudah hampir Rp 10.000 triliun," kata Bhima dalam keterangan tertulis (12/6).

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax Green lebih tinggi daripada kenaikan harga BBM Pertamax (RON 92), yang sebelumnya Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. "Hal ini membuat publik bertanya tentang harga keekonomian bioetanol yang lebih mahal dibanding bensin biasa," ungkapnya.

Diketahui, Pemerintah sedang mendorong pengembangan bahan baku bioetanol melalui Proyek Strategis Nasional atau food estate tanaman tebu dalam rangka mendukung upaya peningkatan ketahanan energi.

Laporan Celios berjudul "Mengapa Bioethanol tidak Menjawab Ketahanan Energi." memperkirakan program food dan energy estate khususnya pengembangan BBN memerlukan biaya sangat besar, yakni lebih dari USD 11 miliar atau sekitar Rp 176 triliun dalam periode 10 tahun. "Ini sekitar 89 persen dari total anggaran subsidi energi pada tahun 2026," kata Bhima.

Menurut Bhima, salah satu biaya besar dari bioetanol adalah akibat pembukaan lahan food estate atau energy estate secara besar-besaran seperti di Merauke, Papua Selatan. Akibatnya, produsen akan membebani kompensasi ekstra atas lonjakan nilai investasi dan tingginya biaya logistik saat menjual produk ke Pertamina.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore